26 February 2016

Tipologi Spiritual Orang Islam, Anda yang Mana?

Oleh : Ust. Priyo Djatmiko 13/07/2016

Sumber Islam itu satu, tapi ekspresi spiritual muslim bisa berbeda-beda. Tulisan ini sedikit mencoba memotret dan mengklasifikasi tipologi ekspresi spiritualitas muslim. Yang dimaksud dengan spiritualitas adalah:
  1. Cara muslim itu memandang sumber nilai atau kebenaran (sebut saja: teks, rasionalitas, intuisi, akal kolektif, ilham, otoritas),
  2. Cara alamiah dan terbaik dia dalam berhubungan dan berkomunikasi dengan Tuhan, dan 
  3. Cara dia menerapkan apa yang ia pahami dari agama kepada dunia eksternal di luar dirinya.
Tiga aspek ini dalam tradisi islam akan diletakkan dalam dimensi transendental (berbeda dengan tradisi sekuler yang meletakkannya pada dimensi etik dan otonomi manusia saja) sehingga tepat jika keragamannya disebut sebagai tipologi spiritual muslim. Tipologi ini hanya observasi saja dan tidak absolut ketepatannya:

Pertama, tipe sufistis atau muslim salik. Islam bertujuan membersihkan diri dari dosa dan mengisi hati dengan kebajikan, melalui disiplin spiritual dan ritual. Muslim salik berfokus pada tujuan in dan lebih khusus lagi untuk dekat dengan Tuhan, ia memperbanyak kondisi soliter dan menyepi. Untuk menyempurnakan batin, ia menghindari hal-hal kebanyakan: terlalu banyak berhubungan dengan manusia, terlalu banyak mengkonsumsi apa yang disukai manusia, dan terlalu banyak mencintai apa yang dicintai oleh kebanyakan manusia. Mereka merasa bermanfaat apabila bisa memberi suluh, pencerahan dan ketentraman pada manusia kebanyakan, yang hanya bisa diberikan jika batinnya lebih jernih untuk bisa melihat hal-hal yang tersembunyi dari kebanyakan manusia.

Kedua, tipe legalis atau muslim teologis. Tujuan Islam adalah memperbaiki manusia, dan kebaikan-kebaikan diperoleh dari kepatuhan atau melakukan apa yang dikehendaki oleh Tuhan, yang mengatur perbuatan-perbuatan, interaksi antar manusia maupun postulat-postulat yang harus diyakini. Muslim teologis mendapat ketentraman setelah mengetahui dan mematuhi hukum ini. Hubungan transendennya dengan Tuhan diperoleh melalui interaksinya dengan teks, disertai dengan sikap hormat, patuh dan mengabdi. Tujuannya membaca dan mengartikan teks adalah untuk mengetahui maksud Pemberi teks. Mereka mengabdi pada Tuhan dengan membawa teks-teks ilahiyah agar bisa menjadi panduan dalam kehidupan nyata, dan itu membutuhkan keahlian atas teks-teks tersebut.

Ketiga, tipe intelektual atau muslim mufakkir. Agama mengajarkan bahwa diluar manusia ada kebajikan dan kebenaran yang melampaui naluri-naluri instingtif dan kebutuhan-kebutuhan primordialnya. Dengan demikian, agama bagi orang ini memberikan dorongan kuat untuk mengejar kebenaran dan kebajikan, dengan terus menerus membaca alam dan fenomenanya, manusia dan interaksinya, peristiwa-peristiwa dan sejarahnya. Mirip dengan tipe kedua (legalis) yang bertujuan untuk mengetahui kehendak-kehendak Tuhan atas manusia, namun berbeda dengan cara mencapai tujuannya. Legalis mulai secara deduktif dari teks, mufakkir mulai secara induktif dari luar teks. Ia mencari pertanyaan-pertanyaan yang tepat untuk ditanyakan dan masalah-masalah yang harus dipecahkan. Jika legalis lebih praktis dan kekinian, mufakkir lebih prediktif dan menghubungkan masa lalu dan masa depan, serta menghubungkan alam pikir muslim dengan alam pikir mereka yang bukan muslim. Dia mendapat ketenangan dalam berinteraksi dengan Tuhan jika ia merasa telah mengerahkan daya upayanya untuk memanfaatkan akal karena sadar akal adalah pemberian Tuhan terpenting yang ada pada dirinya. Jika legalis memandang otentisitas atau ketepatan dan kemurnian atas apa yang dikehendaki Tuhan sangat penting, mufakkir memandang penemuan-penemuan baru dan kemajuan-kemajuan lebih penting sebagai bukti pengerahan kemampuan manusia untuk mendekati kehendak Tuhan.

Keempat, tipe humanitarian atau muslim filantropis. Muslim filantropis memandang praksis lebih penting daripada kontemplasi-nya sufi, tercapainya tujuan etis lebih penting daripada otentisitas hukum-hukum dan penemuan-penemuan intelek manusia. Kesalehan diukur dan dikalibrasi dengan timbangan kebenaran yang universal yaitu seberapa banyak yang pemeluk agama dapat berikan untuk orang lain melalui tindakannya. Ketinggian spiritual diperoleh dengan memberi orang yang kekurangan, mengangkat orang yang tertinggal, membela orang yang lemah dan menghibur orang yang bersusah hati. Bagi orang ini, dunia tanpa agama adalah dunia yang penuh dengan penderitaan dan ketidakadilan, sehingga menghadirkan agama adalah dengan kedermawanan serta mencapai ketakwaan adalah dengan altruism (kemelimpahan) tanpa pamrih.

Kelima, tipe revivalis atau muslim aktivis. Jika muslim sufistik berfokus pada intuisi dan kontemplasi, muslim legalis berfokus pada teks dan ortodoksi, muslim intelektual berfokus pada akal dan invensi-invensi, muslim aktivis memandang praksis dan ortopraksis lebih penting serta berfokus pada manusia dan kemanusiaan seperti halnya muslim filantropis, bedanya ia lebih mengejar perubahan-perubahan menyeluruh daripada tindakan-tindakan individual, tindakan-tindakan advokatif dan politis lebih efektif dari tindakan-tindakan derma dan simpatik. Keprihatinannya bukan sekedar atas ketidakadilan dan nasib pahit manusia, tapi pada penglihatannya bahwa semua itu ada penyebab sistemiknya. Titik spiritualnya tersentuh bukan melalui kegembiraan orang yang diberi atau keharuan atas penderitaan manusia, tapi lebih melalui keselarasan batin ketika melakukan kerja-kerja perubahan, demi terhapusnya keburukan dan terwujudnya kebaikan. Menurut keyakinannya, perubahan di level komunitas akan menjadi jalan untuk menurunkan kebaikan-kebaikan derma secara otomatis.

Catatan: Tipologi ini mesti dipandang sebagai kecenderungan dominan dan tidak menegasi satu sama lain. Setiap manusia beramal sesuai tempatnya. Yang disarankan adalah setiap kita harus:
  1. Melengkapi semuanya, menetapkan batas bawah tipe yang menjadi kelemahannya, serta mengoptimalkan tipe yang menjadi kekuatannya,
  2. Mewaspadai potensi negatif masing-masing tipe jika terlalu ekstrim, dan
  3. Bekerja secara kolektif memanfaatkan seluruh kekuatan spiritual yang beraneka ragam.

16 February 2016

Tragedi Lumba-Lumba Argentina, Sebuah Hipokrisi Barat

Sedang mondar-mandir di lini masa Facebook saya berita lumba-lumba di satu pantai di Argentina yang mati karena dehidrasi berat setelah ramai-ramai diperebutkan orang-orang untuk swapotret (selfie). Media-media Barat kayak CNN, Times, New York Daily dan Washington Post ramai-ramai memberitakannya. Saya turut berduka cita sangat dalam atas kejadian bodoh tersebut, apalagi katanya itu hewan yang termasuk terancam punah. Cuman bukan itu yang mau dibahas.

Begini ya, media-media Barat golongan itu sangat cepat tanggap untuk meliput berita perikebinatangan, mendramatisasinya dan melemparnya ke publik. Masih segar dalam ingatan kita kasus Axelle Despiegelaere seorang fans timnas Belgia saat Piala Dunia 2014 kemarin batal menjadi agen ambasadornya L'Oreal gegara kedapatan membagikan foto pribadinya yang selesai membunuh hewan liar. Seluruh dunia mengutuknya, sampai terjadi pembatalan itu.

Sementara itu, penindasan sesama manusia di atas manusia di berbagai belahan dunia media-media tersebut cenderung memilih diam. Agak sulit mendapatkan liputan terbaru kekejaman Rusia saat Prahara Suriah yang membom tempat-tempat yang seharusnya tidak boleh dibom menurut konvensi perang internasional seperti rumah sakit, sekolah dan rumah-rumah sipil, atau yang jelas-jelas sejak lebih dari setengah abad penjajahan Zionis atas rakyat Palestina, lalu Rohingya, belum suku Pattani juga suku Uyghur. Itu beberapa kedzaliman yang korbannya muslim. Yang non muslim pun tidak sedikit. Di Pakistan misalnya ada penindasan dan diskriminasi terhadap ummat Hindu di sana atau di negara Pam Sam sendiri terjadi diskriminasi tersembunyi terhadap warga kulit hitam di dalam hal buku-buku pelajaran, seleksi pelamar kerja, kesu'uzhannan polisi, pengadilan dan lamanya hukuman dalam kasus kriminal. Padahal semestinya merujuk pada UU yang berlaku antara black dan white adalah sama dan setara. Banyak sekali pada intinya ketimpangan dan kedzaliman di dunia ini yang sepertinya walaupun sangat vulgar tapi sangat enggan untuk diliput oleh media-media besar Barat itu.

Berbeda sekali misalnya kalau korbannya adalah orang kulit putih: Charlie Hebdo, bom marathon Boston, bom di Itali dan lain dan lainnya. Semua ribut, semua diliput. Kalau bisa diulang-ulang setelah dijadikan headline berkali-kali. Para pembesar negara pun tidak luput mengadakan seremoni, berbela sungkawa agar langsung dicap pro kemanusiaan. Ya, intinya media Barat golongan itu (ada juga golongan lain yang minoritas kayak The Guardian, ironis ya yang berimbang malah yang minoritas) akan peduli jika yang jadi korban adalah orang kulit putih atau binatang. Sempitnya dunia ini....

04 June 2015

Cinta Beda Agama? Ah...


Adalah Nabi Adam AS yang memberikan isyarat bahwa manusia memang perlu cinta pada sesama. Maka diciptakanlah Sayyidatinaa Hawa untuk menemani elegi.

Adalah Salman Al Farisi dan Abu Darda contoh daripada mulianya cinta karena iman. Abu Darda mewakilkan diri Salman Al Farisi untuk melamar gadis pujaan lelaki Persia itu. Namun taqdir berkata lain, sang wanita malah jatuh cinta pada Abu Darda yang sembari tadi memuji Salman Salman Al Farisi untuk meyakinkah hati wanita akan ketinggian iman dan keluhuran budi Salman. Tanpa ragu sedikitpun Salman Al Farisi rela memberikan seluruh mas kawin yang disiapkan sebelumnya kepada Abu Darda.

Sementara itu, Qabil dan Habil adalah cerita cinta yang terlepas dari iman. Ikatan persaudaraan tidak mampu mencegah nafsu syahwat yang menutupi mata hati Qabil yang dengan tega membunuh Habil.
Sementara itu, bagaimana jika cinta dapat disemaikan, tumbuh dalam koridor ridla Allah jika dilepaskan dari iman. Duhai apa kabar nikah beda agama? Iman ada di atas cinta, dan cinta bersama iman adalah sebaik-baik dan sejatinya cinta.

Departemen Penerangan dan Hukum Allah

Foto ini saya unggah ulang dari foto seorang aktivis sejarah "Jejak Islam Bangsa"
Beggy Rizkiyansyah menulis:

Foto sebuah pawai di tahun 1950an. Kalimatnya: Dengan Hukum Allah Dunia Aman.
Foto didapatkan dr sebuah buku yg ditujukan bagi madrasah ibtidaiyah dan tsnawiyah. Foto bersumber dari Departemen Penerangan.
Bayangkan jika foto semacam ini diperuntukkan bagi sekolah2 dasar saat ini.
Bayangkan pula pawai dgn spanduk semacam ini jika dilakukan saat ini. Mungkin akan dicap pawai fundamentalis, intoleran, pemecah belah NKRI, radikal dan gelar2 kehormatan lainnya. Begitu cepatnya masa lalu kita kubur dalam-dalam.

100 Tahun Prof. Dr. H. M. Rasjidi

Sosok pendidik dan Menteri Agama RI pertama Kabinet Sjahrir ini dikenal sangat kritis terhadap ragam pemikiran liberal-sekuler yang menjangkiti umat Islam.

Oleh Ismail Al-‘Alam (Anggota Dewan Penyelia DISC Masjid UI)

Pada tanggal 20 Mei 1915 lahir seorang bernama Saridi di Kotagede, Yogyakarta. Saat menuntut ilmu di usia belia, ia mengubah namanya menjadi Rasjidi, mengikuti gurunya, Syeikh Ahmad Syurkati, tokoh utama Al-Irsyad, yang dengan lisan arabnya kesulitan menyebut kata “Saridi”. Dalam hidupnya Rasjidi ternyata memberi sumbangsih besar pada sejarah bangsa kita.

Bangsa ini, yang entah karena alasan alpa bersama atau terlalu pusing dengan hiruk-pikuk persoalan harian, seakan lalai memperingati seabad kelahiran Menteri Agama pertama ini. Kita benar-benar harus mengenal kembali sosok dan pemikiran beliau untuk memperoleh teladan dalam menjalani hidup berbangsa dan bernegara, khususnya sebagai muslim Indonesia.

Ulama dan Negarawan 


Prof. Dr. H. M. Rasjidi, yang oleh keluarga Masyumi akrab dipanggil Pak Rasjidi, mencurahkan seluruh hidupnya untuk Islam dan Indonesia, terutama sebagai bagian dari pemerintahan dan pendidik. Dalam pemerintahan, beliau merupakan Menteri Agama RI pertama dalam Kabinet Sjahrir II. Di usia kemerdekaan yang masih belia ia kemudian menjadi diplomat di beberapa negara Arab. Kerja-kerja diplomasi yang beliau lakukan, baik seorang diri maupun sebagai anggota dari tim diplomasi yang dipimpin Haji Agus Salim, berbuah pengakuan kedaulatan Indonesia oleh negara-negara muslim yang dikunjunginya. Beliau menjalani tugas kenegaraan itu tanpa sedikit pun lekat pada citra kemewahan sebagaimana sebagian besar pejabat masa kini. Selaku menteri, beliau mengayuh sepeda setiap pagi untuk sampai ke tempatnya bekerja. Ketika pada akhirnya memiliki mobil dinas pun, ban mobil itu harus diisi rumput kering sampai padat agar bisa berjalan. Amat sederhana dan serba terbatas.

Selepas menjalani tugas kenegaraan di masa-masa sulit, beliau lebih banyak beramal shalih di dunia pendidikan. Universitas McGill, UI, dan IAIN Jakarta adalah tiga kampus tempat beliau mengampu kuliah-kuliah penting bidang pemikiran Islam dan filsafat, bidang yang beliau tekuni kala berkuliah di Universitas Kairo dan Universitas Sorbonne. Di McGill, beliau memiliki kedudukan sejajar dengan orientalis besar seperti Toshihiko Izutsu. Di kampus ini pula beliau membimbing Syed Muhammad Naquib Al-Attas, salah satu filsuf muslim terbesar abad ini, dalam menulis tesis tentang Nuruddin ar-Raniry. Di Indonesia, beliau mendapat gelar guru besar bidang hukum Islam dari UI dan bidang filsafat Barat dari IAIN Jakarta. Meski bergelar guru besar, di lingkungan UI beliau tetap giat memberi pendidikan Islam kepada mahasiswa-mahasiswa yang jauh lebih muda darinya.

Debat-debat Bermartabat 

Satu hal yang menonjol dari Pak Rasjidi adalah aktivitas debat yang beliau lakukan, baik secara langsung atau melalui tulisan berbalas (polemik). Di McGill, beliau berbantah-bantah dengan Joseph Schacht – orientalis besar asal Jerman – tentang hukum Islam. Di Indonesia, beliau mengkritik gagasan sekularisasi Nurcholis Madjid, rancangan kurikulum pendidikan Islam Harun Nasution, pandangan kebudayaan AMW Pranaka, dan pandangan kebatinan Warsito. Beliau juga mengkritisi paham Syi’ah, komunisme, dan pandangan materialis Barat tentang agama. Sebagian kritik itu ia terbitkan dalam bentuk buku dengan penalaran ilmiah, bahasa yang tertata (meski kadang jenaka), dan tanpa menebar kebencian atau menyarankan penyerangan. Bahkan ia masih berhubungan baik dan bersedia membuka ruang diskusi yang lebih serius dengan orang atau pihak yang dikritiknya itu.

Kritiknya terhadap Harun Nasution menjadi contoh menarik. Ketika Harun menulis buku Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya untuk kebutuhan penyediaan diktat kuliah di IAIN, Pak Rasjidi turut membaca dan menemukan persoalan epistemologis dalam buku tersebut. Menurut beliau buku tersebut sebagiannya menggunakan sudut pandang orientalis dalam melihat Islam, salah satunya dalam penjelasan mengenai makna agama. Beliau menilai penjelasan tersebut seperti cara pandang sarjana Barat yang melihat agama sebagai produk kebudayaan manusia. Jika tak teliti, pembaca akan turut mengira bahwa Islam bukanlah agama wahyu. Di bagian lain, beliau menemukan pemaparan Harun tentang mazhab-mazhab dalam Islam, yang dalam pengamatan beliau seperti kebiasaan kaum orientalis anti-Islam untuk menonjolkan hal-hal kecil sehingga tampak tak pernah ada kesepakatan di antara umat Islam.

Persoalan-persoalan dalam buku Harun beliau teliti dan tanggapi satu persatu hingga menjadi satu buku berjudul Koreksi Terhadap Dr. Harun Nasution tentang “Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya”. Buku tersebut awalnya beliau sampaikan secara terbatas untuk Departemen Agama. Setelah sekian lama tak ditanggapi, akhirnya buku itu diterbitkan untuk umum. Di kalangan kaum terpelajar, kritik guru besar Fakultas Hukum UI pada muridnya ini menjadi sajian pertentangan pemikiran guru-murid yang amat berharga bagi kajian keislaman kontemporer di Indonesia. Meski belasan tahun berbeda pandangan, Direktur Rabithah Alam Islami Perwakilan Jakarta ini masih bersedia menulis sebuah artikel untuk buku 70 Tahun Harun Nasution dan mengapresiasi capaian intelektual Harun lewat kata-kata santun dan bersahabat.

Kedewasaan beliau dalam menyikapi perbedaan ini sekurang-kurangnya karena tiga hal. Pertama, keyakinannya akan kebenaran Islam sampai taraf paling filosofis. Kedua, persentuhannya dengan berbagai bangsa, agama, dan pemikiran dalam ruang kosmopolit global. Ketiga, keterlibatan aktif beliau membangun dan membina bangsa yang dicintainya. Tiga hal tersebut membuat beliau memiliki kepercayaan diri yang tinggi sebagai muslim, tanpa sedikit pun minder atau merasa terancam berlebihan yang seringkali membuat seseorang berlaku tidak pada tempatnya.

100 Tahun 


Dalam rangka memperingati 100 tahun Prof. H. M. Rasjidi, Depok Islamic Study Circle (DISC) Masjid Ukhuwah Islamiyah, Universitas Indonesia, mengadakan seminar sederhana bertajuk “Peran Prof. H.M. Rasjidi dalam Dakwah di Indonesia” . Seminar ini akan dilaksanakan pada hari Jumat, 5 Juni 2015, pukul 13.00-16.00 di Auditorium Pusat Studi Jepang Universitas Indonesia. 100 tahun rasjidi

DISC mengundang sejumlah pembicara di seminar ini. Yang pertama adalah Prof. Dr. Jimly Asshiddiqie, pakar hukum yang pernah bersentuhan langsung dengan Prof. Rasjidi. Selama menuntut ilmu di Fakultas Hukum UI, Prof. Jimly aktif berkegiatan di Masjid Arief Rahman Hakim UI, Salemba. Di Masjid inilah ia dibina langsung oleh Prof. Rasjidi. Pemaparan Prof. Jimly tentang Prof. Rasjidi tentu akan memberikan wawasan tersendiri bagi khalayak umum.

Pembicara selanjutnya ialah Prof. Dr. Ibnu Hamad, Guru Besar Ilmu Komunikasi UI. Prof. Ibnu merupakan Pengurus Masjid Ukhuwah Islamiyah, masjid resmi di lingkungan UI. Sebagai salah satu pelanjut perjuangan Prof. Rasjidi, tentu Prof. Ibnu memiliki berbagai pandangan menarik seputar Prof. Rasjidi. Pembicara ketiga adalah Adnin Armas, M.A, pimpinan Insists yang kini berada di garis depan menebas pemikiran sekular-liberal di Indonesia.

Peringatan seabad kelahiran Prof. H. M. Rasjidi mungkin tak semeriah peringatan seabad Soekarno, Buya Natsir, atau HAMKA. Meski begitu, semakin membaca sosok dan pemikiran beliau, kita akan semakin yakin bahwa gelar pahlawan amat pantas dianugerahkan negara kepadanya. Seraya menyeru pemerintah agar sadar dan mewujudkan hal itu, mari kita tempatkan beliau sebagai guru bangsa dengan segala warisan kisah dan gagasan cemerlang. Gagasan cemerlang bahwa mencintai Indonesia dengan cara pandang Islam adalah juga suatu bentuk ketakwaan.

Sumber: FB DISC Masjid UI

Meningkatkan Resolusi Monitor LG FLATRON L1742SE pada LinuxMint 17.1

 Sudah lama nih gak ngoprek lagi, maklum akhir-akhir tuntutan pekerjaan membuatku hanya menjadi sekadar end-user saja untuk sementara, walaupun di sela-sela kesempatan aku masih iseng-iseng memasang beberapa distro. Sekarang aku mau berbagi cara mengoptimalkan resolusi monitor Monitor LG FLATRON L1742SE pada LinuxMint 17.1 yang mentok pada 1024x766



Jalankan perintah cvt dengan opsi resolusi yang kamu inginkan. Perintah cvt ini adalah untuk mengkalkulasi modelina VESA CVT (Coordinated Video Timing) untuk digunakan bersama server grafik X

cvt 1280 1024

Setelah dicoba, hasil keluarannya adalah

# 1280x1024 59.89 Hz (CVT 1.31M4) hsync: 63.67 kHz; pclk: 109.00 MHz
Modeline "1280x1024_60.00"  109.00  1280 1368 1496 1712  1024 1027 1034 1063 -hsync +vsync

Perhatikan angka-angka sebelum -hsync, angka-angka tersebut yang akan kita gunakan sebagai modus grafis, kemudian buat modus grafis, di sini aku memakai nama 'gelo_name', biar greget, hehehe.

xrandr --newmode gelo_name 109.00  1280 1368 1496 1712  1024 1027 1034 1063

Setelah itu, tambahkan modus grafis baru tersebut ke output VGA
xrandr --addmode VGA1 gelo_name

Akhirnya kita aktifkan modus grafis yang telah dibuat dengan perintah
xrandr --output VGA1 --mode gelo_name

Permasalahannya tidak sampai di sini, pengaturan resolusi ini akan menghilang dan kembali pada pengaturan sebelumnya ketika sistem dihidupkan ulang. Artinya, kita harus memanggil perintah-perintah di atas dari awal. Untuk mengatasinya, kita masukkan saja beberapa baris perintah itu menjadi sebuah berkas skrip yang nantinya akan dipanggil saat sistem dimulai. OK, mari menjadi preman terminal lagi.

Buat berkas skrip bash dari perintah-perintah di atas. Sebenarnya ini bisa dilakukan dengan GUI, cuman ribet aja dokumentasinya, hehehe. OK, kita bikin berkas yang dapat dieksekusi

sudo touch /usr/local/bin/optimalize_resolution
sudo nano /usr/local/bin/optimalize_resolution

Kemudian isi dengan perintah-perintah di atas sebelumnya, terkecuali perintah cvt itu karena kita sudah mengetahui parameter angka yang dibutuhkan untuk konfigurasi. Oh ya, jangan lupa tambahkan baris #!/bin/bash di awal

#!/bin/bash

xrandr --newmode gelo_name 109.00  1280 1368 1496 1712  1024 1027 1034 1063
xrandr --addmode VGA1 gelo_name
xrandr --output VGA1 --mode gelo_name

Setelah itu, kita buat agar skrip di atas bisa dijalankan saat sistem dimulai dengan cara membuat berkas .desktop dan disimpan di /etc/xdg/autostart

30 May 2015

Dikotomi Negeri Muslim Minus Islam VS Negeri Islam Minus Muslim


Barat yang Megah, Sesungguhnya Rapuh - sumber gambar: novaonline.nvcc.ed

Sedikit selintingan tentang adagium menyesatkan 'Di Barat sana, ku temukan Islam namun tidak ada muslim, di negeri ini, kutemukan muslim tapi tidak dengan Islam'. Negara-negara Eropa konon sangat maju, berpendidikan dan kuat karena aturan-aturan yang dibuat bahkan bukan berdasarkan agama (walaupun aroma Kekristenan tetap ada), dan nilai-nilai yang universal dan humanis itulah --bukan aspek legal formal syari'at-- yang mestinya dijunjung oleh orang Islam yang fanatik, totaliter dan fundamentalis, katanya juga.

Not to mention, bagaimana ukuran kemajuan peradaban itu jika ternyata ada fakta-fakta sejarah yang lebih mencengangkan karena disebabkan cara berpikir di luar Islam. Di antaranya ya tentang pembunuhan-pembunuhan paling masif/genosida seperti yang dilakukan Hitler dan perang dunia yang luar biasa besar itu, itu semua bukan dilakukan oleh muslim, bahkan tidak sama sekali didasari semangat keislaman. Lalu kolonialisme yang selain menghisap habis SDA penduduk dunia ketiga, juga menyisakan 'mental' terjajah selama berabad-abad (inferiority complex/ Minderwürdigkeit) kemudian dan juga institusi-institusi besar semacam PBB yang bersumber dari semangat persaudaraan antar bangsa, keseteraan kemerdekaan ummat manusia dan tentu nilai-nilai kemanusiaan sendiri dewasa ini malah seakan mandul tidak mampu memenuhi nilai-nilai yang dianutnya terbukti dengan terus menerus adanya kedzaliman di berbagai belahan dunia yang mengarah pada penjajahan, genosida dan pengusiran seperti di Palestina, Uighur, dan terbaru Rohingya.

Di negeri-negeri di Barat sendiri, keteraturan kota-kotanya, kedispilinan warganya, minimnya korupsi, ditegakkannya hukum-hukum yang seakan menyilaukan itu ternyata memiliki borok-borok yang tidak terelakkan. Amerika Serikat misalnya, negeri adidaya ini memiliki pendapatan film porno melebihi revenue-nya Microsoft, atau Belanda yang memiliki taman khusus yang pengunjungnya boleh berhubungan badan secara legal di depan umum, malah kalau anjing masuk ke situ tidak dilarang, sama juga berhubungan badan di kereta api di tempat umum dilegalkan, asalkan suka sama suka. Lain lagi di Jepang yang masyarakatnya dikenal workaholic, ternyata memiliki tingkat bunuh diri yang tertinggi di dunia dan tradisi "bukkake” yaitu mengeroyok rame-rame satu gadis dengan belasan pria sekaligus, dan kesemuanya itu legal saudara-saudara!!

Tentu cara berpikir dikotomis 'negeri muslim minus Islam' atau 'negeri Islam minus muslim' bukan karena perbedaan antara 'Islam' dan 'muslim' itu sendiri, tetapi karena cara pandang pincang yang menghendaki bahwa Islam itu sekadar nilai-nilai universalnya saja, Islam itu hanya diambil saripatinya saja semacam toleransi, penjunjungan tinggi akan kemajuan atau kemanusiaan. Tapi bukan seperti itu seharusnya, Islam adalah sistem mabda berbasiskan tauhid yang syumul, kompleks dan integratif yang tidak mungkin dicerai beraikan secara sewenang-wenang sehingga ketika ada kebaikan yang dipraktikkan oleh golongan non Islam kita katakan itu Islam, tidak seperti itu. Maukah dikatakan bahwa orang-orang Yahudi dengan provokasi teologis dari Talmud oleh Zionisme Internasional untuk hijrah ke Palestina itu disebut sangat Islami karena dicap Tauhid sebagaimana diketahui agama Yudaisme itu monoteis? Atau kaum Budhhis yang terkenal petapa mencinta keharmonisan itu sangat sesuai dengan konsep zuhud lantas juga disebut Islami? Tidak kan? Nah, begitu juga ketika berbicara dengan masalah negeri ini. Orang-orang ini hanya memang satu nafas dengan materialisme yang sudah pasti memiliki ukuran kemajuan hanya dalam ukuran fisik semata.

Sesungguhnya mereka (orang kafir) menyukai kehidupan dunia dan mereka tidak memperdulikan kesudahan mereka, pada hari yang berat (hari akhirat) .(Al Insan 27)

Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang kami kehendaki bagi orang yang kami kehendaki dan Kami tentukan baginya neraka jahannam; ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir. (Al isro, 18)
 
Wallahu a'lam. Correct me if I'm wrong.

Bil Mujmal Ahlusunnah Wal Jama'ah

Oleh: Ust. Priyo Djatmiko 10/05/2015 


Ini argumentasi saya kenapa keduanya (Salafiy dan Aswaja, ed.) mesti dianggap bil mujmal (secara global, red.) Ahlussunnah wal jamaah. Baik keduanya, punya dasar kategori sebagai berikut: Bahwa semua orang apapun manhajnya bisa terjatuh pd kesalahan akhlaqiyah dan kekeliruan ghulluw, tapi ini bukan dasar penghukuman umum. Dasar penghukuman umum adalah apa yang diwakili oleh manhajnya itu sendiri: sekarang bagi teman-teman Aswaja: secara umum manhaj Salafiy yg menjadi titik beda adalah hal-hal berikut ini:
  1. Bab madzhab, ijtihad dan taqlid, 
  2. Bab asma wa shifat (tafwidh makna vs tafwidh kayfiyat, istbat vs takwil),
  3. Bab tasawuf dan yang terkait
  4. Bab bid;ah dan amalan-amalan terkait yg diperselisihkan. 
  5. Bab syirik dan amalan-amalan terkait yg diperselisihkan  
  6. Bab takfir dan penerapannya, tapi ikhtilaf di poin 6 ini semua kelompok berselisih dan saling tumpang tindih, jadi kita kecualikan saja soal ini.

Dari poin 1-5, misalnya meski secara umum saya pribadi mengelirukan pendapat Salafiyah, itu tidak menjadikan saya mengeluarkan mereka dari Ahlussunnah, misalnya dengan ungkapan seperti model ini: menyandingkan mereka di kanan sebagai musuh Aswaja, di kirinya Syi'ah. Artinya meski ada pendapat mereka yang saya keluarkan dari representasi pendapat Ahlussunnah Wal Jama'ah (sikap pribadi), tapi mereka sendiri tidak keluar Ahlussunnah Wal Jama'ah. Tidak keluar itu artinya di dalamnya bukan cuma dekat tapi masih di luar. Artinya bukan sekadar ahlul qiblah tapi memang sama-sama ahlussunnah wal jamaah. Kalau sekadar ahlul qiblah maka ia bisa masuk ke 72 golongan yg harus dicuci dulu dengan naar (hehe). Yang sekadar itu misalnya Syi'ah secara umum, Khawarij, Muktazilah...

Lho, kenapa Syi'ah, Khawarij dan Muktazilah dikeluarkan tapi kedua golongan ini tidak? Karena ada kesamaan yg menjadi ciri khusus yang membedakan Ahlussunnah Wal Jama'ah secara umum: yaitu "sunnah", atau standar kebenaran, yang mencakup masdar syar'i (quran dan hadits, metode umum untuk memverifikasi dan meng-istinbath atau fiqh) dan "jama'ah" yaitu konsep ummah, ulama dan ulil amri. Yang pertama ("sunnah") lebih banyak kesamaannya daripada yang kedua ("jamaah") karena yang kedua ini banyak sekali berubah di zaman modern ini, yang dinamikanya jauh lebih dahsyat daripada ketika di zaman ulama-ulama pendahulu, jadi semakin banyak variasi pendapat yang kadang bertentangan tidak berkonsekuensi mengeksklusikan dari Ahlussunnah Wal Jama'ah. Artinya kesamaan-kesamaan ini jika ditimbang bobotnya lebih berat daripada perbedaan yang di atas, baik khilafiyah masalah di atas (1-6) itu khilafiyah muktabar dari salaf atau tidak. Misalnya khilafiyah muktabar adalah manhaj dalam soal ijtihad-madzhab-taqlid, karena ada ulama-ulama seperti Imam As Syaukani, As Shan'ani, kalau tidak mau menyebut Ibnul Qayyim dan Ibn Taimiyah. Itu hanya contoh.

Terus apakah dengan demikian kita aman dari api neraka? Ya tidak, meskipun kita masuk ke dalam Ahlussunnah Wal Jamaah, tapi kita bisa melakukan dosa seperti di atas: dosa kesalahan akhlaqiyah dan dosa kekeliruan ghuluw

Ya dengan begini saya rasa kedua belah pihak sama-sama lebih banyak yang tidak setuju dengan saya daripada yang setuju. Bahkan setuju pun tidak banyak membantu kalau pihak yang lain tidak sama-sama menyambutnya. Artinya ya harus sama-sama, tidak bisa sepihak.

Aswaja?

Sudah seakan menjadi suatu konsensus tidak tertulis bahwa istilah 'aswaja' yang pada awalnya merupakan kependekan dari Ahlusunnah Wal Jama'ah kemudian lama-lama dipakai dalam konteks Indonesia untuk menunjukkan golongan muslim tradisionalis (katakan saja NU yang dominan, atau Perti yang semisal). Entahlah, apa karena memang warga Nahdliyin ini memang sukanya gak ribet, kalau nulis gelar kehormatan dan pujian seperti bagi Allah pake SWT, untuk Nabi Muhammad pake SAW, terus sahabat nabi pake RA dan seterusnya.

Kemudian istilah 'salafy' yang pada awalnya justru dipakai oleh kalangan muslim tradisional untuk memberi nama pesantren yang bercorak tradisional juga (klop) sebagai pembeda dengan corak pesantren modern model Gontor dan sejenisnya eh malah dipakai oleh golongan puritanis yang sering dituduh Wahhabi dan gak mau disebut Wahhabi.

Tapi entahlah, ini poster yang diisi oleh da'i Salafy malah memampang nama ASWAJA, apakah metode dakwah atau ingin taqrib? Wallahuu a'lam, yang pasti kita mesti rukun brai

Catatan: Saya masih NU lho, gak ada taqiyah pura-pura biar bisa promosi acaranya teman-teman Salafy.

24 May 2015

Gak Mau Mengaku Salah


People spend too much time finding other people to blame, too much energy finding excuses for not being what they are capable of being, and not enough energy putting themselves on the line, growing out of the past, and getting on with their lives. J. Michael Straczynski

01 March 2015

Alergi Syari'at

Brandon terkena gagal ginjal, setiap dua minggu sekali sesuai anjuran dokter dia harus melakukan cuci darah (hemodialisis), sekali sesi itu selama lima jam. Biayanya 50-80 juta rupiah. Kemudian dia juga harus melakukan CAPD (Continuous Ambulatory Peritoneal Dialysis atau cuci darah lewat perut) dengan biaya per tahun Rp 50-75 juta. Dibutuhkan juga pemasangan kateter dengan biaya Rp 10 juta. Kemudian jika ingin transplantasi ginjal maka harus merogoh kocek sebesar Rp 200 juta untuk pretransplantasi dan prosedur, sementara biaya transpantasinya sendiri Rp 75-150 juta per tahun.

Sungguh angka yang fantastis! Rata-rata dia membutuhkan Rp 300 juta per tahun untuk mendapatkan ginjal yang kembali berfungsi normal. Dengan uang sebanyak itu dia sebenarnya bisa membeli satu rumah minimalis menengah di kompleksi elit.

Mengapa Brandon begitu berani berkorban mengeluarkan uang sebanyak itu?

Karena dia yakin akan saran dokter....

Kenapa dia yakin pada dokter?

Karena dia tahu dokter itu orang pintar yang sudah belajar puluhan tahun dengan biaya yang juga mahal.

Ini baru tentang kesehatan....

Nah, pertanyaannya, jika ada seorang muslim yang mengklaim bahwa dia meyakini bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang benar, dia yakin katanya 100% Allah adalah tuhannya dan Muhammad adalah nabi-Nya, kenapa masih ada saja yang merasa gatal dengan sesuatu hal ihwal yang berkenaan dengan syari'at? Kalau ada istilah syari'at tiba-tiba saja menjadi alergi dan menjadi bahan kritik. Dengan segudang alasan: dari mulai tuhan tidak perlu dibela, menganggu keragaman/pluralitas sampai alergi karena sudah dicocoki istilah-istilah keren yang dipelajari dari buku-buku. Sampai-sampai menyepelekan, bahwa manusia tidak perlu dinilai dari agamanya, agama itu sama saja, yang penting beribadah dan berbuat baik kepada sesama manusia (meskipun garis demarkasi tauhid juga dilanggar).

Apakah itu artinya sebenarnya dia tidak yakin akan kebenaran dan keagungan Islam? atau dia memiliki split personality karena ilmu yang dipelajari dan pengalaman yang dialaminya? Atau karena dia memang pengen terlihat sangat toleran di hadapan orang-orang non muslim? Wallahu ta'ala a'lam

09 November 2014

Pesantren dan Ilmu Pengetahuan Sekuler Perkuliahan

Dua minggu yang lalu ikut bantu paman di Ciamis membangun fondasi untuk rumahnya, ya walaupun sekadar jadi tukang laden tidak apa-apa, hitung-hitung olahraga juga menghindari dunia virtual laptop yang setiap hari digeluti. Qadarullah hari itu adalah hari Jum'at, sehingga siang hari saya membersihkan diri untuk berangkat Jum'atan. Yang menarik, Jum'atan saat itu dilakukan di kompleks asrama pesantren Darussalaaam yang tentu sebagian besar (90%) jama'ahnya adalah anak didik pesantren itu. Saya juga tidak tahu mengapa sepertinya hanya sebagian kecil saja masyarakat yang ikut Jum'atan di sana. Mungkin karena perbedaan mazhab, karena seingat saya di sana itu kecuali untuk sarungan dan do'a terpimpin yang dijahrkan, kaifiyat khhutbah dan shalatnya mirip sekali dengan orang-orang Muhammadiyah. Mungkin itu yang menyebabkan bapaknya bibi (istri paman) lebih memilih Jum'atan di desa.

Masuk ke dalam masjid seketika itu saya langsung merasa berjalan ke masa lalu, di mana uniformalitas menjadi ciri khas. Masing-masing anak dengan baju koko putih, sarungan, kopiah songkok dan Al Quran di tangan duduk bershaf khusyu tadarusan sebelum adzan. Melihat satu per satu wajah yang sarat kisah itu serasa melihat diri sendiri yang pernah hidup dalam lingkungan serupa yang sangat ketat, penuh aturan kedisplinan dan mungkin dalam beberapa kasus mengundang jiwa pemberontakan, hehe. Isi khutbahnya sangat bagus, yaitu tentang pentingnya menjaga diri dari perkataan buruk sesuai anjuran dalam Q.S. Ibrahim ayat 24 dan 25:

"“Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat.” (QS. Ibrahim 24 dan 25)"

Setelah selesai Jum'atan jama'ah keluar kecuali para santri dan asatidz, pintu masjid pun ditutup. Masih jelas terdengar dari luar suara pengeras suara yang dipegang oleh pembina mereka, ada evaluasi di sana.

Saya semakin tersenyum saja mendengarnya. Bukan apa-apa, mungkin bagi teman-teman santri atau siapa pun yang pernah hidup dalam lingkungan seperti itu saat merasakannya dalam beberapa kesempatan mengalami tekanan bathin ingin segera menyelesaikannya dan mendapatkan kebebasan. Wujud dari tekanan ini bisa jadi pemberontakan pelanggaran aturan atau sekadar menggerutu saat menjalankan tugas. Mengingat perkataan teman saya bahwa menggerutu justru malah merugikan, karena bagaimanapun tugas2 itu tetap saja dilakukan, sementara pahalanya dikhawatirkan malah menghilang. Benar saja, saya juga mengiyakannya terutama sekarang saat sudah menadi alumni.

Tapi bukan itu intinya, melainkan bagaimana sebenarnya saya dan banyak alumni lainnya yang mengaku justru rindu akan lingkungan seperti itu. Saat kebebasan di kampus kemaren diraih, saya sempat kehilahan arah terutama dalam masalah keagamaan. Maklum juga, pendidikan tinggi sekarang atau lebih tepatnya konten pendidikan sekarang yang banyak impor itu kelewat 'netral', hampir boleh dikatakan ilmu pengetahuan yang tidak bebas nilai itu dikangkangi oleh nilai-nilai sekularisme, dalam variasi takarannya tentunya. Orang yang belajar fisika belum tentu dapat menjadi hamba yang mampu menyingkap kebesaran dan kekuasaaan Allah melalui belajarnya itu. Semakin belajar, justru semakin lupa pada Tuhan. Belum juga serbuan materliasme yang mendoktrin sekolah itu hanya untuk bisa kerja, bukan menuntut ilmu untuk mencari ridla Allah. Singkatnya, seorang penuntut ilmu di manapun tetap perlu arahan, bimbingan dan wejangan dari orang yang lebih 'alim dan sholeh tentunya, dan itu semua agak susah sepertinya di lingkungan kampus kalau bukan atas keinginannya sendiri. Mungkin orang tua mesti lebih dilibatkan untuk hal ini. Jangan sampai anak tercintanya malah kehilangan arah dan tujuan hidup karena masuk dan membaur dalam lingkungan yang salah. Ingat, aset paling berharga kita adalah keimanan, banyak yang pudar bahkan hilang dan tersesatkan kala masuk dunia kampus. Na'udzubillaah tsumma na'uudzubillaahimindzalik.

Hidup di Asrama: Merindu Kebebasan Lalu Rindu Kebersamaan

Dua minggu yang lalu ikut bantu paman di Ciamis membangun fondasi untuk rumahnya, ya walaupun sekadar jadi tukang laden tidak apa-apa, hitung-hitung olahraga juga menghindari dunia virtual laptop yang setiap hari digeluti. Qadarullah hari itu adalah hari Jum'at, sehingga siang hari saya membersihkan diri untuk berangkat Jum'atan. Yang menarik, Jum'atan saat itu dilakukan di kompleks asrama pesantren Darussalaaam yang tentu sebagian besar (90%) jama'ahnya adalah anak didik pesantren itu. Saya juga tidak tahu mengapa sepertinya hanya sebagian kecil saja masyarakat yang ikut Jum'atan di sana. Mungkin karena perbedaan madzhab, karena seingat saya di sana itu kecuali untuk sarungan dan do'a terpimpin yang dijahrkan, kayfiyat khutbah dan shalatnya mirip sekali dengan orang-orang Muhammadiyah. Mungkin itu yang menyebabkan bapaknya bibi (istri paman) lebih memilih Jum'atan di desa.

Masuk ke dalam masjid seketika itu saya langsung merasa berjalan ke masa lalu, di mana uniformalitas menjadi ciri khas. Masing-masing anak dengan baju koko putih, sarungan, kopiah songkok dan Al Quran di tangan duduk bershaf khusyu tadarusan sebelum adzan. Melihat satu per satu wajah yang sarat kisah itu serasa melihat diri sendiri yang pernah hidup dalam lingkungan serupa yang sangat ketat, penuh aturan kedisplinan dan mungkin dalam beberapa kasus mengundang jiwa pemberontakan, hehe. Isi khutbahnya sangat bagus, yaitu tentang pentingnya menjaga diri dari perkataan buruk sesuai anjuran dalam Q.S. Ibrahim ayat 24 dan 25:

"“Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat.” (QS. Ibrahim 24 dan 25)"
Setelah selesai Jum'atan jama'ah keluar kecuali para santri dan asatidzah, pintu masjid pun ditutup. Masih jelas terdengar dari luar suara pengeras suara yang dipegang oleh pembina mereka, ada evaluasi di sana.

Saya semakin tersenyum saja mendengarnya. Bukan apa-apa, mungkin bagi teman-teman santri atau siapa pun yang pernah hidup dalam lingkungan seperti itu saat merasakannya dalam beberapa kesempatan mengalami tekanan bathin ingin segera menyelesaikannya dan mendapatkan kebebasan. Wujud dari tekanan ini bisa jadi pemberontakan pelanggaran aturan atau sekadar menggerutu saat menjalankan tugas. Mengingat perkataan teman saya bahwa menggerutu justru malah merugikan, karena bagaimana pun tugas-tugas itu tetap saja dilakukan, sementara pahalanya dikhawatirkan malah menghilang. Benar saja, saya juga mengiyakannya terutama sekarang saat sudah menjadi alumni. Tapi bukan itu intinya, melainkan bagaimana sebenarnya saya dan banyak alumni lainnya yang mengaku justru rindu akan lingkungan seperti itu.
Atas: Perpisahan ANDALAS SMA Plus Cisarua, Sebuah Dunia yang Cenderung Homogen, Penuh Aturan dan Terkendalikan
Bawah: Kampus Universitas Paramadina, Dunia Lain yang Egaliter. Kritis Sekaligus Bebas

Saat kebebasan di kampus sudah mulai diraih, saya sempat kehilahan arah terutama dalam masalah keagamaan. Maklum juga, pendidikan tinggi sekarang atau lebih tepatnya konten pendidikan sekarang yang banyak impor itu kelewat 'netral', hampir boleh dikatakan ilmu pengetahuan yang tidak bebas nilai itu dikangkangi oleh nilai-nilai sekularisme, dalam variasi takarannya tentunya. Seperti yang dikemukakan oleh Ustadz Arnin Armas, MA, seorang murid cendekiawan muslim besar abad ini, Syed Naquib Al Attas yang menyatakan bahwa orang yang belajar fisika belum tentu dapat menjadi hamba yang mampu menyingkap kebesaran dan kekuasaaan Allah melalui belajarnya itu. Semakin belajar, justru semakin lupa pada Tuhan. Belum juga serbuan materialisme yang mendoktrin sekolah itu hanya untuk bisa kerja, bukan menuntut ilmu untuk mencari ridla Allah. Bagi al-Attas, ilmu yang kini secara sistematik disebarkan ke seluruh dunia bukanlah ilmu yang sejati, tetapi telah dipenuhi oleh watak dan kepribadian kebudayaan Barat, dipenuhi dengan semangatnya dan disesuaikan dengan tujuannya.

Singkatnya, seorang penuntut ilmu di manapun tetap perlu arahan, bimbingan dan wejangan dari orang yang lebih 'alim dan sholeh tentunya, kalau kata teman saya itu kita memang butuh bukan hanya orang yang tahu 'ulumuddin (ilmu-ilmu agama) sebagai guru, melainkan juga sosok yang memiliki jiwa yang lebih besar dari kita dan itu semua agak susah sepertinya di lingkungan kampus kalau bukan atas keinginannya sendiri atau diarahkan atas dasar bagian dari kewajiban suatu program beasiswa semacam tarbiyyah di kalangan mahasiswa Etos. Mungkin orang tua mesti lebih dilibatkan untuk hal ini. Jangan sampai anak tercintanya malah kehilangan arah dan tujuan hidup karena masuk dan membaur dalam lingkungan yang salah. Ingat, aset paling berharga kita adalah keimanan, banyak yang pudar bahkan hilang dan tersesatkan kala masuk dunia kampus.  

Na'udzubillaah tsumma na'uudzubillaahimindzalik.

03 September 2014

Yahoo! Indonesia Membusuk

Kelakuan media massa sekuler, beberapa kali jelas-jelas halaman resmi Yahoo! Indonesia ini melecehkan Islam, dan kayak begini dibela-bela
Alasannya sih kritik ke masyarakat??? Kritik ke masyarakat kok jadi menghina Tuhan, alasannya berfisafat, filsafat macam apa kalau mengkomunikasikan sesuatu sudah gagal sedari awal.

14 August 2014

Selamat Hari Pramuka - 2014

Afgan Juga Pramuka!!
Hari ini adalah ulang tahun Pramuka. Yaps, Selamat Hari Pramuka: 14 Agustus 1961- 14 Agustus 2014


Pada tahun 2014 ini Pramuka di Indonesia sepertinya akan mulai mengalami tren yang menggembirakan karena telah menjadi ekstrakurikuler yang wajib pada Kurikulum 2013 setelah sebelumnya dengan terbitnya Undang-Undang Nomor 12 tahun 2010 tentang Gerakan Pramuka yang memperkuat legalitas Pramuka di negeri ini. Ya, di samping pro kontra yang menyertai kurikulum baru tersebut tentunya. Untuk itulah, Gerakan Pramuka telah mempersiapkan diri dengan memperbaharui sistem pendidikan kepramukaan, beberapa diantaranya dengan melakukan akreditasi Gudep (Gugus Depan), serta sertifikasi dan lisensi para Pembina.

Omong-omong soal Pramuka, semasa SMA dulu saya hidup dalam lingkungan kawah candradimuka: sebuah boarding school yang kental selain dengan suasana religius juga aroma militer melalui para pembina dari TNI. Walaupun memang keras dan menekankan disiplin, tapi banyak hikmah yang bisa diambil. Kita belajar tentang taat pada peraturan, melatih mental baja, mengendalikan diri, sembari tetap menjadi insan kreatif sarat prestasi yang selalu mengasah kelembutan hati, solidaritas persahabatan, penghormatan pada guru/orang yang mesti dihormati dan kepekaan sosial-lingkungan. Lingkungan semacam ini tentu sangat klop dengan Pramuka. Selain itu juga, kami sebagai siswa asrama memang diwajibkan memilih salah satu di antara dua ekstrakurikuler berkarakter mirip yang wajib diikuti: Pramuka atau Paskibra.

Berbeda dengan lingkungan saat saya berada sekarang ini. Dunia kampus yang penuh idealisme dan overserius, terkadang memaksa kita hidup dalam kepura-puraan. Tawa yang kita lempar sekadar formalitas keakraban. Padahal hidup yang memang permainan ini perlu unsur bermain, seberapa tua pun umur kita. Pramuka menjadi wadah bagi kita untuk menyalurkan rasa 'bermain' dalam hal-hal yang masih positif. Pramuka bisa menjadi sarana untuk intermezzo atau jeda untuk sekadar mengambil nafas demi mengenali diri sendiri dan alam di tengah arus dunia urban yang terus menerus melakukan penggerusan kedirian dan kejatidirian.

Tapi memang model pelantikan yang terlihat perpeloncoan juga cukup banyak menuai kritikan. Pelantikan yang biasanya afgan sadis ini tidak urung menjadi perhatian beberapa teman sosial media saya. Kemungkinan besar cara pandang mereka dibentuk oleh lingkungan yang berbeda dengan saya, tapi saya rasa komentar miring terkhusus tentang pelantikan ini apalagi sampai pada tahap mencela Pramuka tidak perlu ada, karena ini adalah aspek pendidikan juga yang kata Baden-Powell: membentuk generasi waras di zaman yang edan.

Hitung






Komentar

Tentang Blog Ini

Seorang pembelajar yang berharap tidak berhenti belajar, seorang hamba yang berharap tidak berhenti menghamba

Followers