Showing posts with label Kontemplasi. Show all posts
Showing posts with label Kontemplasi. Show all posts

04 March 2017

Kemajuan dan Kebahagiaan


Secara umum manusia modern memuja kemudaan, sebagai imbas dari ambisi dan keyakinan modernisme akan uncease unlimited progress (kemajuan yang takkan surut dan tak ada batas). Hal ini meski secara filsafati tak selalu disadari, di benak bawah sadar kita meyakini hal itu: kesedihan yang tak terelakkan bahwa kita beranjak tua dan perasaan insecure (merasa tidak nyaman) ketika pada taraf usia tertentu kita belum mencapai apa yang (menurut kita) mestinya tercapai. Orangtua dengan demikian adalah milik masa lalu, tidak cukup lincah diandalkan untuk mengubah dunia

Masyarakat tradisional -yang dicemooh modernisme sebagai masa pramodern- yang mengutamakan keserasian, ketenangan dan menghayati cita rasa estetika dalam kehidupan dibandingkan ambisi efisiensi dan progress, sebaliknya memandang usia tua sebagai kekayaan. Yang tua dihormati, mengarahkan tindakan apa yang bijak untuk menerima, berinteraksi dan menghayati kenyataan eksternal, alih-alih berambisi mengubah dan mengendalikannya

Yang ingin dikemukakan adalah betapa niscayanya ketidakbahagiaan di alam batin modernisme. Waktu tidak dapat berjalan mundur dan manusia tak bisa menjadi semakin muda. Anak-anak muda anak kandung modernisme yang sedari kecil dijanjikan "tidak ada mimpi yang mustahil"; "kamu bisa menjadi apa saja"; "tak ada seorangpun bisa menghalangi keinginanmu (termasuk norma, aturan dan tata nilai orang banyak)" mesti dikembalikan ke kenyataan, iya kita bisa menjadi apa saja, tapi kita tak bisa mendapatkan semuanya. Kita mesti sadar bahwa bahwa progress belum tentu kebajikan dan kita tidak mengukur kebajikan dengan maju tidaknya suatu nilai. Justru kita mengukur, memvalidasi kemajuan dengan kebajikan. Yang mula-mula harus diketahui adalah kebajikan, kebaikan.

Ust. Priyo Djatmiko 24/2/2017 17:07

26 February 2016

Tipologi Spiritual Orang Islam, Anda yang Mana?

Oleh : Ust. Priyo Djatmiko 13/07/2016

Sumber Islam itu satu, tapi ekspresi spiritual muslim bisa berbeda-beda. Tulisan ini sedikit mencoba memotret dan mengklasifikasi tipologi ekspresi spiritualitas muslim. Yang dimaksud dengan spiritualitas adalah:
  1. Cara muslim itu memandang sumber nilai atau kebenaran (sebut saja: teks, rasionalitas, intuisi, akal kolektif, ilham, otoritas),
  2. Cara alamiah dan terbaik dia dalam berhubungan dan berkomunikasi dengan Tuhan, dan 
  3. Cara dia menerapkan apa yang ia pahami dari agama kepada dunia eksternal di luar dirinya.
Tiga aspek ini dalam tradisi islam akan diletakkan dalam dimensi transendental (berbeda dengan tradisi sekuler yang meletakkannya pada dimensi etik dan otonomi manusia saja) sehingga tepat jika keragamannya disebut sebagai tipologi spiritual muslim. Tipologi ini hanya observasi saja dan tidak absolut ketepatannya:

Pertama, tipe sufistis atau muslim salik. Islam bertujuan membersihkan diri dari dosa dan mengisi hati dengan kebajikan, melalui disiplin spiritual dan ritual. Muslim salik berfokus pada tujuan in dan lebih khusus lagi untuk dekat dengan Tuhan, ia memperbanyak kondisi soliter dan menyepi. Untuk menyempurnakan batin, ia menghindari hal-hal kebanyakan: terlalu banyak berhubungan dengan manusia, terlalu banyak mengkonsumsi apa yang disukai manusia, dan terlalu banyak mencintai apa yang dicintai oleh kebanyakan manusia. Mereka merasa bermanfaat apabila bisa memberi suluh, pencerahan dan ketentraman pada manusia kebanyakan, yang hanya bisa diberikan jika batinnya lebih jernih untuk bisa melihat hal-hal yang tersembunyi dari kebanyakan manusia.

Kedua, tipe legalis atau muslim teologis. Tujuan Islam adalah memperbaiki manusia, dan kebaikan-kebaikan diperoleh dari kepatuhan atau melakukan apa yang dikehendaki oleh Tuhan, yang mengatur perbuatan-perbuatan, interaksi antar manusia maupun postulat-postulat yang harus diyakini. Muslim teologis mendapat ketentraman setelah mengetahui dan mematuhi hukum ini. Hubungan transendennya dengan Tuhan diperoleh melalui interaksinya dengan teks, disertai dengan sikap hormat, patuh dan mengabdi. Tujuannya membaca dan mengartikan teks adalah untuk mengetahui maksud Pemberi teks. Mereka mengabdi pada Tuhan dengan membawa teks-teks ilahiyah agar bisa menjadi panduan dalam kehidupan nyata, dan itu membutuhkan keahlian atas teks-teks tersebut.

Ketiga, tipe intelektual atau muslim mufakkir. Agama mengajarkan bahwa diluar manusia ada kebajikan dan kebenaran yang melampaui naluri-naluri instingtif dan kebutuhan-kebutuhan primordialnya. Dengan demikian, agama bagi orang ini memberikan dorongan kuat untuk mengejar kebenaran dan kebajikan, dengan terus menerus membaca alam dan fenomenanya, manusia dan interaksinya, peristiwa-peristiwa dan sejarahnya. Mirip dengan tipe kedua (legalis) yang bertujuan untuk mengetahui kehendak-kehendak Tuhan atas manusia, namun berbeda dengan cara mencapai tujuannya. Legalis mulai secara deduktif dari teks, mufakkir mulai secara induktif dari luar teks. Ia mencari pertanyaan-pertanyaan yang tepat untuk ditanyakan dan masalah-masalah yang harus dipecahkan. Jika legalis lebih praktis dan kekinian, mufakkir lebih prediktif dan menghubungkan masa lalu dan masa depan, serta menghubungkan alam pikir muslim dengan alam pikir mereka yang bukan muslim. Dia mendapat ketenangan dalam berinteraksi dengan Tuhan jika ia merasa telah mengerahkan daya upayanya untuk memanfaatkan akal karena sadar akal adalah pemberian Tuhan terpenting yang ada pada dirinya. Jika legalis memandang otentisitas atau ketepatan dan kemurnian atas apa yang dikehendaki Tuhan sangat penting, mufakkir memandang penemuan-penemuan baru dan kemajuan-kemajuan lebih penting sebagai bukti pengerahan kemampuan manusia untuk mendekati kehendak Tuhan.

Keempat, tipe humanitarian atau muslim filantropis. Muslim filantropis memandang praksis lebih penting daripada kontemplasi-nya sufi, tercapainya tujuan etis lebih penting daripada otentisitas hukum-hukum dan penemuan-penemuan intelek manusia. Kesalehan diukur dan dikalibrasi dengan timbangan kebenaran yang universal yaitu seberapa banyak yang pemeluk agama dapat berikan untuk orang lain melalui tindakannya. Ketinggian spiritual diperoleh dengan memberi orang yang kekurangan, mengangkat orang yang tertinggal, membela orang yang lemah dan menghibur orang yang bersusah hati. Bagi orang ini, dunia tanpa agama adalah dunia yang penuh dengan penderitaan dan ketidakadilan, sehingga menghadirkan agama adalah dengan kedermawanan serta mencapai ketakwaan adalah dengan altruism (kemelimpahan) tanpa pamrih.

Kelima, tipe revivalis atau muslim aktivis. Jika muslim sufistik berfokus pada intuisi dan kontemplasi, muslim legalis berfokus pada teks dan ortodoksi, muslim intelektual berfokus pada akal dan invensi-invensi, muslim aktivis memandang praksis dan ortopraksis lebih penting serta berfokus pada manusia dan kemanusiaan seperti halnya muslim filantropis, bedanya ia lebih mengejar perubahan-perubahan menyeluruh daripada tindakan-tindakan individual, tindakan-tindakan advokatif dan politis lebih efektif dari tindakan-tindakan derma dan simpatik. Keprihatinannya bukan sekedar atas ketidakadilan dan nasib pahit manusia, tapi pada penglihatannya bahwa semua itu ada penyebab sistemiknya. Titik spiritualnya tersentuh bukan melalui kegembiraan orang yang diberi atau keharuan atas penderitaan manusia, tapi lebih melalui keselarasan batin ketika melakukan kerja-kerja perubahan, demi terhapusnya keburukan dan terwujudnya kebaikan. Menurut keyakinannya, perubahan di level komunitas akan menjadi jalan untuk menurunkan kebaikan-kebaikan derma secara otomatis.

Catatan: Tipologi ini mesti dipandang sebagai kecenderungan dominan dan tidak menegasi satu sama lain. Setiap manusia beramal sesuai tempatnya. Yang disarankan adalah setiap kita harus:
  1. Melengkapi semuanya, menetapkan batas bawah tipe yang menjadi kelemahannya, serta mengoptimalkan tipe yang menjadi kekuatannya,
  2. Mewaspadai potensi negatif masing-masing tipe jika terlalu ekstrim, dan
  3. Bekerja secara kolektif memanfaatkan seluruh kekuatan spiritual yang beraneka ragam.

09 November 2014

Pesantren dan Ilmu Pengetahuan Sekuler Perkuliahan

Dua minggu yang lalu ikut bantu paman di Ciamis membangun fondasi untuk rumahnya, ya walaupun sekadar jadi tukang laden tidak apa-apa, hitung-hitung olahraga juga menghindari dunia virtual laptop yang setiap hari digeluti. Qadarullah hari itu adalah hari Jum'at, sehingga siang hari saya membersihkan diri untuk berangkat Jum'atan. Yang menarik, Jum'atan saat itu dilakukan di kompleks asrama pesantren Darussalaaam yang tentu sebagian besar (90%) jama'ahnya adalah anak didik pesantren itu. Saya juga tidak tahu mengapa sepertinya hanya sebagian kecil saja masyarakat yang ikut Jum'atan di sana. Mungkin karena perbedaan mazhab, karena seingat saya di sana itu kecuali untuk sarungan dan do'a terpimpin yang dijahrkan, kaifiyat khhutbah dan shalatnya mirip sekali dengan orang-orang Muhammadiyah. Mungkin itu yang menyebabkan bapaknya bibi (istri paman) lebih memilih Jum'atan di desa.

Masuk ke dalam masjid seketika itu saya langsung merasa berjalan ke masa lalu, di mana uniformalitas menjadi ciri khas. Masing-masing anak dengan baju koko putih, sarungan, kopiah songkok dan Al Quran di tangan duduk bershaf khusyu tadarusan sebelum adzan. Melihat satu per satu wajah yang sarat kisah itu serasa melihat diri sendiri yang pernah hidup dalam lingkungan serupa yang sangat ketat, penuh aturan kedisplinan dan mungkin dalam beberapa kasus mengundang jiwa pemberontakan, hehe. Isi khutbahnya sangat bagus, yaitu tentang pentingnya menjaga diri dari perkataan buruk sesuai anjuran dalam Q.S. Ibrahim ayat 24 dan 25:

"“Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat.” (QS. Ibrahim 24 dan 25)"

Setelah selesai Jum'atan jama'ah keluar kecuali para santri dan asatidz, pintu masjid pun ditutup. Masih jelas terdengar dari luar suara pengeras suara yang dipegang oleh pembina mereka, ada evaluasi di sana.

Saya semakin tersenyum saja mendengarnya. Bukan apa-apa, mungkin bagi teman-teman santri atau siapa pun yang pernah hidup dalam lingkungan seperti itu saat merasakannya dalam beberapa kesempatan mengalami tekanan bathin ingin segera menyelesaikannya dan mendapatkan kebebasan. Wujud dari tekanan ini bisa jadi pemberontakan pelanggaran aturan atau sekadar menggerutu saat menjalankan tugas. Mengingat perkataan teman saya bahwa menggerutu justru malah merugikan, karena bagaimanapun tugas2 itu tetap saja dilakukan, sementara pahalanya dikhawatirkan malah menghilang. Benar saja, saya juga mengiyakannya terutama sekarang saat sudah menadi alumni.

Tapi bukan itu intinya, melainkan bagaimana sebenarnya saya dan banyak alumni lainnya yang mengaku justru rindu akan lingkungan seperti itu. Saat kebebasan di kampus kemaren diraih, saya sempat kehilahan arah terutama dalam masalah keagamaan. Maklum juga, pendidikan tinggi sekarang atau lebih tepatnya konten pendidikan sekarang yang banyak impor itu kelewat 'netral', hampir boleh dikatakan ilmu pengetahuan yang tidak bebas nilai itu dikangkangi oleh nilai-nilai sekularisme, dalam variasi takarannya tentunya. Orang yang belajar fisika belum tentu dapat menjadi hamba yang mampu menyingkap kebesaran dan kekuasaaan Allah melalui belajarnya itu. Semakin belajar, justru semakin lupa pada Tuhan. Belum juga serbuan materliasme yang mendoktrin sekolah itu hanya untuk bisa kerja, bukan menuntut ilmu untuk mencari ridla Allah. Singkatnya, seorang penuntut ilmu di manapun tetap perlu arahan, bimbingan dan wejangan dari orang yang lebih 'alim dan sholeh tentunya, dan itu semua agak susah sepertinya di lingkungan kampus kalau bukan atas keinginannya sendiri. Mungkin orang tua mesti lebih dilibatkan untuk hal ini. Jangan sampai anak tercintanya malah kehilangan arah dan tujuan hidup karena masuk dan membaur dalam lingkungan yang salah. Ingat, aset paling berharga kita adalah keimanan, banyak yang pudar bahkan hilang dan tersesatkan kala masuk dunia kampus. Na'udzubillaah tsumma na'uudzubillaahimindzalik.

11 May 2011

Tacit Knowledge : Belajar Bersepeda Sebagai Proses Belajar Paling Sukses

Dikutip dari Pak Yanuar Nugroho (@yanuarnugroho) dan Pak Q. K. Dikara Barcah (@qk_dikara)
Dalam hierarki pengetahuan (knowledge hierarchy), tacit knowledge menempati urutan pra-logical, yaitu ia ada sebelum yang lainnya ada. Dalam pengetahuan selalu saja ada hal yang menjadi tidak terukur. Dalam Tacit Dimension (1967:4), dikatakan bahwa:

“we can know more than we can tell”


Dalam Oxford Advanced Learner's Dictionary disebutkan bahwa tacit merupakan that is suggested indirectly or understood, rather than said in words.

20 March 2011

Mengukir Masa Depan Mereka: Kisah Sosialisasi Paramadina Fellowship 2011

“Pulang, aku harus pulang!”, begitu gumamku di dalam hati. Hari Sabtu itu kulihat merah di kalender buku akademik mahasiswa. Hari Nyepi, ini kesempatanku karena aku selama seminggu di semester IV ini hanya punya libur Kamis dan Jum'at. “Kenapa tak pulang saja ke Tasikmalaya?”, pendapatku dalam hati.


Memang aku akui aku bergegas pulang untuk melepas kerinduan pada ayah dan bunda karena sudah selama hampir lima tahun ini aku selalu hidup melanglang buana: SMA di Bandung dan sekarang di Jakarta. Tidak jauh sih, tapi selalu ada saja penyakit “homesick” yang melanda hati.


Agenda lain yang aku punya dalam rangka pulang ini adalah membayar kesalahan. Aku merasa berdosa sekali, dosa ini selalu terngiang-ngiang dalam hati dan pikiran “Ah, betapa naif dan egoisnya aku ini tidak mau membantu orang lain!”, pikirku. Aku merasa sangat bersalah ketika harus mengakui pada liburan semester III kemarin aku tak sedikitpun melakukan sosialisasi Paramadina Fellowship 2011. Sementara aku tahu, betapa banyak ratusan pelajar atau lulusan SLTA sekarang yang memiliki potensi besar, otak yang cerdas namun tidak pernah tahu tentang beasiswa ini. Ya, walaupun sekarang zamannya Internet, tetapi alamak, pengguna Internet kita kan tahun 2010 saja hanya mencapai 30 juta jiwa dari kurang lebih 240 juta jiwa dengan tinngkat penetrasi yang hanya mencapai 12,3% (http://internetwoldstats.com), dan lebih-lebih di kampungku itu, aku yakin penetrasinya sedikit sekali.


Sementara tahun lalu, masih berbekas di kepalaku aku sampai naik sepeda sewaan -karena alasan SIM dan kelengkapan administrasi sepeda motor-, sampai mati-matian masuk ke dalam hutan, menyusuri jalan berkerikil dan bolong-bolong hanya untuk menyampaikan, ini lho ada beasiswa dari para dermawan-dermawan Indonesia yang peduli akan masa depan bangsa.


Pada liburan yang hanya tiga hari itu, aku memutuskan untuk memberikan informasi emas ini hanya pada sekolah yang memiliki probabilitas terbesar, sekolah yang memiliki reputasi baik dan terbukti tahun kemarin mampu lolos ke tingkat wawancara. Dari sekitar sepuluhan sekolah itu (aku lupa pastinya berapa), hanya ada satu sekolah yang mampu lolos dan menurutku sangat potensial, yaitu SMA Terpadu Riyadlul 'Ulum Wada'wah, atau yang lebih dikenal dengan SMA Condong Tasikmalaya. SMA ini merupakan SMA yang bagus yang memasukkan kurikulum gabungan dengan suasana kampus yang kental sekali dengan aroma pesantren. Walaupun pesantren, tetapi sudah mampu tampil modern, terlihat dari “pencontekannya” terhadap Pesantren Gontor.


Dengan 'azzam yang mantap, aku pinjam sepeda Spin kakakku. Walaupun ragu, karena baru pertama ini aku memakai sepeda motor matic. Tak apalah, sembari belajar. Perjalanan hanya memakan waktu setengah jam untuk bisa sampai ke SMA Condong ini. Agak kikuk juga, karena harus membiasakan diri memakai dua rem. Yah, di tengah jalan di daerah Saripin perjalananku terhambat karena adanya arak-arakan “samenan” (acara naik kelas tahunan), membuat molor. Alhamdulillah sampai juga di tujuan.


Kedatanganku disambut hangat oleh Dinan, siswa kelas 6 yang tertarik untuk menjajal Paramadina Fellowship ini. Duh, senangnya saat bisa menginjakkan kaki di tanah pesantren yang mengingatkanku kembali dengan kehidupan boarding school-ku semasa SMA dulu yang setengah pesantren setengah militer. Yasud, aku diajak untuk naik ke kelas IPA di lantai 2. Hmmm, kuhirup kerifan pesantren sangat lekat: baju koko, asrama dan muhadatsah! Hoho, damai sekali sepertinya.


Saat masuk, kulihat hijab di kelas. Ya, memang kelasnya difragmentasikan untuk akhwat dan ikhwan. Tapi saat itu tidak seperti tahun kemarin ketika aku sosialisasi di sekolah tersebut, tidak ada Ustadz yang menemani. So, cukup beralasan kalau ada seorang siswa yang membuka hijab tersebut, nakal juga!


Interaksi

Dengan ditemani minuman teh botol Sosro di depan mata, pembeberan tentang Paramadina Fellowship ini berjalan sangat menarik. Audiens yang semuanya kelas 6 (kelas 12 SLTA, mereka nyantri dari “kelas 1 SMP” sampai “kelas 6 SMA”) terlihat sangat antusias Beberapa pertanyaan muncul dari audiens. Namun sayangnya, tak ada satupun pertanyaan jitu dari pihak putri. Ketika aku nyeletuk pake Basa Sunda, hanya sepenggal pertanyaan ini yang terlontar dari siswi:


“Eh, Aa urang mana nya?”

Artinya : “Eh, Kakak orang mana ya?”


Padahal aku sangat menginginkan sekali berita ini tersampaikan sepenuhnya, tak ada yang terpenggal satu pun demi mendukung dan membekali mereka nanti tatkala proses seleksi berlangsung. Entah kenapa dan mengapa bagaimana kumaha, sepertinya para putri itu memendam pertanyaan di hati yang tak lekas dilidahkan. Terbukti, setelah presentasi selesai dan aku sudah meninggalkan kelas, ada satu orang yang menghubungiku untuk menanyakan sesuatu tentang Parmadina Fellowship ini, dasar! Mengapa gak dari tadi gitu. Tapi tak apa-apalah, lillah aku bersedia.


Satu hal yang menggelitik, selain terhadap Paramadina Fellowship tersebut, ternyata mereka ingin sekali mengetahui bagaimana menjadi seorang mahasiswa itu. Maksudku, sistem belajarnya seperti apa, penilaiannya, suasana kampusnya. Mungkin sama juga seperti aku dahulu yang sangat ingin mengecap bangku perguruan tinggi. Maklum, menurut pengakuan mereka, para alumni yang kuliah ke luar jarang sekali melakukan sharing tentang dunia perkuliahan.


Serasa melepaskan tas berat di punggung. Aku sangat senang sekali setelah presentasi itu selesai. Besar harapanku, walaupun satu orang saja, ada yang bisa lolos tembus hingga menjadi mahasiswa fellow 2011. Itu merupakan sumbangsih yang bernilai sangat besar bagiku. Serasa ikut serta mengukir masa depan mereka, masa depan anak-anak muda. Aku juga tak lupa berpesan pada mereka untuk menyampaikan informasi ini kepada lulusan SLTA sederajat yang usianya masih memungkinkan untuk mencoba beasiswa ini. Beasiswa yang mengantarkan aku menjadi aku yang sekarang. Hmmm, kumohon pada-Mu Ya Rabb, kabulkanlah.


Kepulanganku ke rumah terhenti akibat hujan deras yang mengguyur selama hampir tiga jam. Dari Dzuhur sampai Ashar aku menunggu di masjid sekolah. Ya, sedikit obrolan ringan dengan Dinan mengenai belajar Bahasa Arab, penggunaan ponsel yang dilarang, dan Paramadina tentunya. Aku banyak menceritakan bagaimana kehidupan asramaku yang ternyata tak jauh berbeda dengan mereka. Jadi rindu rasanya.


Mata langit pun kering sudah, aku bergegas pulang. Kali ini aku mengambil jalur lain yang lebih curam dan terjal jalannya. Agak takut juga, was-was kalau sepeda motor “ompong” ini tak mampu menanjak sementara langit kembali menggerimis. Fiuh!


Di daerah kampung Depok, hujan kembali turun deras. “Yah, bajuku harus dibawa basah tentunya”, pikirku. Tiba-tiba di belokan ada beberapa ayam yang melintas. Sontak aku menarik rem kanan karena kebiasaan sepeda motor bergigi. Lantaran hujan, berkerikil dan dadakan, aku pun terjatuh ke pinggir jalan. Sepeda motor pun aku lepaskan. Perih tentunya karena beberapa kerikil menghujam tanganku. Darah keluar, keperihanku diamini oleh air hujan. Ckckck musibah, musibah. Spion sepeda motor pun jadi korban.


Ah, kembali ke Ibukota membawa sedikit luka fisik di tangan dan pakaian basah. Tapi tak apalah, daripada aku harus menahan luka bersalah tidak memberitakan kabar baik ini kepada orang yang tepat. Mudah-mudahan sekali tahun ini Paramadina Fellowship akan lebih kompetitif lagi sehingga dihasilkan mahasiswa fellow yang lebih berakhlak, potensial dan mampu menjadi agent of change bangsa ini. Nah, demikian pembaca yang budiman semoga kita bisa mengambil banyak hikmah dari ceritaku ini.


Wallahu A'lam Bishshowab

04 November 2010

Penyempitan Internet

Dewasa ini Internet bukanlah hal hal yang aneh. Internet telah mampu membolak-balikan, gonjang-ganjing dunia. Bak manusia, bumi tempat kita berada sedang merasa cemburu dan merasa harga diri diinjak-injak oleh kerakusan manusia. Penghancuran hutan, penggundulan lahan, pencemaran, semuanya berlangsung tak tertahankan. Sementara di sisi lain, bumi cemburu karena tersaingi oleh dunia lain: maya.


Dunia maya/cyber yang tercipta secara tidak langsung berkat kehadiran Internet sedikit demi sedikit memenetrasi diri. Walaupun faktanya, sebagiann besar ada di kota besar terutama Jakarta, Internet sudah menjamur. Apalagi kalau kita sudah punya mobile gadget yang mampu mendukung wi-fi, terutama bagi hotspot hunter seperti aku (padahal di kampus Paramadina mulu), Internet menjadi hal yang sangat murah (bahkan gratis!).

Lantas, apa yang mau dibicarakan? Sudahlah, banyak sekali di Internet yang membahas dari berbagai sisi, Internet dan dampaknya, bahaya Internet, sampai muncul di Indonesia sendiri Internet Sehat. Orang tua zaman sekarang harus siap-siap membuat strategi agar Internet bukan menjadi musuh, melainkan kawan baik yang bisa diajak berdialog (kan kayak manusia ;P). Tak ada kata terlambat untuk belajar. Terus, belaajar dari mana? Ya dari Internet juga salah duanya (salah satunya bisa buku atau teman).

Yo wis, aku sebenernya bukan masalah menyorot Internet sehat. Terus apa? Sabar, sabar......

Kalau kita sering mendengar bahkan bangga apabila data-data statistik menyebutkan pengguna Internet Indonesia termasuk besar. Menurut situs http://www.internetworldstats.com pengguna Internet di Indonesia menduduki peringkat ke 5 di Asia dengan total sekitar 33 juta pengguna dengan penetrasi sekitar 12.3 %. Kita harus berpikir beberapa kali. Besarnya itu kalau dibandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia yang 230 juta, berarti masih kalah. Nah, sudah mah kalah, ada hal yang perlu kita amati secara jeli.
Ini adalah data alexa urutan website 10 besar di Indonesia.
  1. facebook.com
  2. google.co.id
  3. google.com
  4. yahoo.com
  5. blogspot.com
  6. kaskus.us
  7. youtube.com
  8. wordpress.com
  9. detik.com
  10. 4shared.com
Nah, perhatikan baris pertama: FACEBOOK, social networking besutan Mark Zuckerberg ini menjadi sebuah fenomena, lahan bisnis dan uang yang banyak tentunya bagi sang empunya. Tapi, hal yang ironis adalah dengan fakta seperti itu, telah mewariskan sisi negatif lain.

Bukan berarti aku bukan jama'ah Tarekat Fesbuqiyah, tetapi kehadiran facebook seakan menyempitkan Internet dalam artis sesungguhnya. Anak muda sekarang rela duduk berjam-jam untuk mengakses si biru ini. Pasti dong kita sering mendengar istilah online? Walaupun secara harafiahnya online (daring) berarti keadaan yang terhubung, baik itu melalui jaringan Ethernet, Wireless, Intranet ataupun Internet, terminologi online semakin menyempit menjadi keadaan seseorang yang sedang login di facebook.

Alamak, kalau facebook terus menerus, dan hanya kerjaan gak jelas di “mukabuku”, manfaat apa yang mau diambil dari Internet?

Sudah saatnya kita membangunn kesadarann berfacebook yang produktif kawan.

10 July 2010

Mengatasi Kebosanan Rutinitas


Malam ini getaran inspirasiku kembali muncul setelah membaca blognya Kak Rasyid. Kakak kelas semesterku ini memang jagonya dalam merangkai kata-kata. Ia mampu mengabadikan mutiara kata serta pandai mengutip (mengingat) beberapa golden concept. Aku sebenarnya merasa terhenyak sekali betapa kemalasan untuk berbagi kembali menggelayut dalam hati. Fiuh, akhir-akhir ini memang perhatianku terlalu tertujukan pada Ubuntu. Makanya aku juga minta maaf secara pribadi kepada http://derizal.blogspot.com yang sekian lama terasa kesepian dan merana diisi dengan konten-konten "egoistik".

Alhamdulillah detik ini aku bisa sampai duduk di Universitas Paramadina di Semester Pendek Pertama, artinya, Semester I ddan II telah aku lalaui dan kemarin-kemarin aku mengikuti PLC (Paramadina Leaders Camp). Ya, semacam mencari lagi keutuhan diri sebagai mahasiswa, maksudnya menyadari entitas kepemimpinan kita. 

Pada titik tertentu mungkin kita merasa bosan dengan rutinitas keseharian yang ada. Setelah melalui bebrapa contoh eksperimental, mungkin beberapa nih aku mau share. Artinya, aku juga pernah mengalami kebosanan seperti itu.

1. Kembali Pada Mimpi

Ngomong-ngomong soal ingatkan, aku teringat pada sepatah wejangan dari Pak Wija 

"Mimpilah dengan apa yang engkau cita-citakan, dan besok pagi sekali kerjakanlah setiap hal  menuju mimpi itu"

Terkadang kita keluar jalur dari apa yang kita kerjakan. Kita bukanlah mesin yang bekerja tanpa tujuan, kecuali tujuan yang pemiliknya berikan. Kita punya kebebasan untuk bermimpi. Apapun mimpi itu. Di tengah perjalanan menuju mimpi sering kita terseok menyimpang pada kesenangan sesaat atau terlupa. Itulah mengapa banyak pakar menganjurkan bahwa mimpi itu harus divisualisasikan. Tatkala kita merasa bosan, hayyaaa, lihat lagi apa mimpi yang ingin kita tercapai.

Oh, ya mengenai kesuksesan itu sebenarnya bukan merupakan suatu titik capaian tertentu sehingga ketika kita sampai pada titik itu, lantas kita berhenti. Kesuksesan itu sebenarnya merupakan serangkaian proses-proses yang baik dan berjalur yang benar.

2. Renungkanlah Nikmat yang Telah Tuhan Berikan

Kebahagiaan itu bukan apa yang kita dapatkan, melainkan sikap kita terhadap apa yang ada. Mensyukuri nikmat memang bukan perkara yang mudah, apalagi bagi kita yang terbiasa dilimpahi banyak kelebihan. benar, banyak orang berkata nikmat itu terasa ketika nikmat tersebut diambil. Coba sesekali tengok ke rumah sakit terdekat. Banyak sekali yang merindukan nikmatnya mata yang sehat yang meluangkan waktu membaca tulisan ini. Hmmmm...

3. Lakukan dari Sisi yang Berbeda

Kebosanan dapat muncul dikarenakan kita menginginkan sesuatu yang lebih. Alih-alih kita berusaha menginginkan yang lebih dengan cara yang salah. Lebih baik kita melakukan sesuatu yang berbeda dari biasanya. Dari beberapa sumber dikatakan bahwa melakukan sesuatu yang berbeda dari biasanya bisa mencerdaskan otak karena ikut merangsang konektivitas sel-sel otak yang baru. Tidak perlu muluk-muluk, misalnya saja sebagai mahasiswa kita sering menjadi deadline mania, coba kita jadi seorang pencuri. Pencuri start maksudnya, atau dari kebiasaan sehari-hari. Jika kita biasa makan pagi sebelum mandi dan mandi pukul 06:30, cobalah madi pukul 04:30 kemudian makan diselingi jalan-jalan. Mungkin sedikit bisa membantu. Ya, itu tergantung krativitas masing-masing. 

4. Flashback

Mencapai ketenangan hati memang banyak caranya. Salah satunya yang senang aku lakukan adalah flashback. Merenungkan diri perjalanan hidup kita yang cukup jauh dan cukup dekat ini bisa membuat kita tersenyum kecil. Bayangkanlah diri kita yang masih tembem, imut dan cengeng, lambat laun menjadi kita yang sekarang ini. Masuklah perlahan dan mendalam dalam setiap episode, Insya Alloh, kita akan bisa mendapatkan keagungan Tuhan. Cara lain pun bisa, misalnya memandangi foto-foto kita sewaktu kecil dan berbincang bersama Ibunda tentang masa kecil kita. 

Mungkin itu sebagian tips berdasarkan pengalamanku, bagi yang suka, silahkan dilike (kayak facebook aja), yang gak suka sumangga, heheh bercanda

11 May 2010

02 February 2010

Kompetisi Website Kompas MuDa – KFC

BANGGA INDONESIA MENGAPA TIDAK?!

Didedikasikan dalam rangka "nimbrung" kompetisi menulis Kompas (mudaers.com)

Oleh Khoerullana

Seringnya menelusuri budaya-budaya negara lain lewat bacaan-bacaan dan membanding-bandingkannya secara tidak langsung, mungkin beberapa pembaca mengangan-angankan tinggal di negara lain yang diimpikannya itu. Beberapa pembaca lain mungkin akan merasakan betapa beruntungnya tinggal di Indonesia setelah menyelami lebih jauh realita yang terjadi di negara lain, entah lewat berita atau lewat buku bacaan yang objektif, yang tidak hanya membahas “yang indah-indah” saja dari negara tersebut, tetapi juga masalah-masalah yang terjadi di negara itu.

Dari beberapa segi pun, orang indonesia tidak bisa disamakan dengan orang dari negeri manapun walaupun itu sama-sama satu rumpun melayu. Apalagi dilihat dari gaya hidup, jelaslah jauh perbedaannya.

Orang yang gemar memelajari budaya negara lain, pada dasarnya seperti orang yang sedang studi banding, mengambil hal positif dari negara tersebut dan menanamnya di negara asal. Tentu saja, setelah ditransformasi ke dalam budaya Indonesia asli. Kegagalan-kegagalan transformasi nilai maupun sesuatu yan positif dari negara lain ke negara asal banyak terjadi di negeri ini. Apa memang kurang panjang pikir, atau memang kurang tak sabar, atau memang terlalu mengagung-agungkan budaya “batur” itu. Misalnya saja bangunan-bangunan beton yang ada di Padang, tanpa memikirkan segi geografis wilayah itu, Padang menjadi daerah rawan gempa dengan jumlah korban yang menakjubkan.

Memang, kesadaran itu sudah muncul hanya saja proses perubahannya tak segampang itu, banyak hal lain juga yang harus diolah dalam pikiran dan ilmu pengetahuan, tentunya dengan melihat berbagai sudut pandang.

Apapun itu penanaman budaya asing ke dalam budaya asal harus dipikir mask-masak dan melihatnya dari sudut pandang ilmu pengetahuan atau sudut pandang bidang lainnya. Sehingga bencana-bencana atau masalah-masalah yang sering melanda negeri ini bisa diminimalisir. Masalah-masalah rutin yang terjadi setiap tahun di Indonesia seperti banjir, kecelakaan lalu lintas, korupsi, kemiskinan, pengangguran, demonstrasi, atau kecelakaan yang diakibatkan minimnya infrastruktur.

Masalah-masalah yang ditimbulkan oleh sistem infrastruktu, negara-negara maju memiliki solusinya. Tetapi mengenai sikap masyarakatnya, Indonesia harus ekstra keras, karena segala peraturan yang dicontek dari budaya lain itu masih ada yang kurang, mungkin tidak dikonversi dengan kebiasaan-kebiasaan masyarakatnya terlebih dahulu atau memang sebetulnya di dalam pemerintahan itu banyak orang yang sakit hingga masyarakat mulai tak begitu percaya pada pemerintah. Setidaknya tidak 100% percaya.

Hampir semua permasalahan di negeri ini dapat ditemui dengan mudah, berbagai media memberitakannya. Lalu apa hubungannya dengan kita harus bangga Indonesia? Harus ada hubungannya ! Dari segala permasalahan itu, sejelek apapun Indonesia di mata negara lain, kita tetap Warga Negara Indonesia (WNI), yang lahir, hidup, dan mungkin mati di negeri ini. Tak ada Indonesia lain yang senyaman ini. Indonesia yang cook dengan kepribadian masyarakatnya, yang melimpahkan Sumber Daya Alam (SDA) yang meruah. Tetapi apakah benar SDA itu kutukan yang membuat bangsa kita malas?!

Indonesia mempunyai anak-anak bangsa yang luar biasa di mata dunia. Tetapi Indonesia juga, mempunyai anak-anak jalanan yang keberadaannya seperti hal lumrah—seolah takdir bagi mereka, yang pintar makin pintar menindas yang lemah dengan sistem kapitalismenya itu, sementara yang lemah makin malas dan lebih banyak omong daripada kerja.

Data-data di sini tidak diperlukan, tetapi yang utama dari permasalahan negeri ini adalah solusinya. Solusinya adalah kita harus bangga Indonesia terlebih dahulu, merasa memiliki akan negeri ini, sayang dan cinta, dan pada akhirnya meresapi apa yang terjadi dan apa yang diperlukan negeri ini.

Menuduh macam-macam terhadap masyarakat yang dicap pemalas pun tidak dibenarkan, orang harus bijak berpikir mengapa itu terjadi? Pasti ada sebab-sebabnya. Apa yang terlihat sekarang adalah akibat dari masa lalu, dan apa yang diputuskan sekarang adalah sebab kejadian di masa mendatang. Entah keberhasilan atau kegagalan. Mental negatif bangsa ini yang menganggap Indonesia tak bisa menjadi negara yang lebih baik hanya mampu melihat kegagalan dari masa lalu tetapi mereka buta terhadap keberhasilan yang telah dicapai negeri ini.

Memang benar keberhasilan yang dicapai tak sebanding dengan kegagalan yang terjadi. Wajar saja masyarakat Indonesia tidak percaya diri. Lalu apa yang harus dibanggakan? Apakah kita hanya cukup puas dan bangga dengan permasalahan yang ada. Seolah setiap kepala bangsa ini dituntut untuk berpikir sebelum mereka matang. Bahkan bayi yang baru terlahir pun sudah dituntut untuk membayar hutang negara. Lalu selama ini kita hidup “ngapain”? Apa sih kontribusi kita sebagai generasi muda negeri ini? Apakah hanya mampu mengeluh saja, tanpa berusaha mencari solusinya? Kita punya visi misi hidup kagak? Atau jangan-jangan kita hanya asal hidup saja, menjadi bangsa biasa yang memiliki sejarah hidup yang biasa-biasa saja.

Sahabat, perlu kita catat bahwa kebanggaan negeri ini adalah kita mmiliki tantangan yang tidak dimilki negeri maju, tantangan yang mana kita mampu menghasilkan solusi-solusi kreatif, berbeda dengan generasi muda negara maju yang kehabisan ide. Lihat Jepang, setelah mengerahkan seluruh potensinya, akhirnya mereka harus mengakui bahwa China sekarang jauh lebih unggul. Generasi Emas Jepang telah menua. Sementara mereka harus terus menghadapi tantangan yang makin menganga.

Orang Jepang dari dulu selalu kerja keras. Indonesia yang hidupnya penuh masalah, tetapi biasa-biasa saja, nyaman dan santai, bahkan masalah-masalah itu memang harus diterima dengan lapang dada, bukan untuk dicari solusinya. O, ya! Justeru sikap nrimo itulah solusinya. Sikap itu justeru membuat hidup jadi bermakna dan berkah. Jadi, bangga Indoensia, mengapa tidak?! Namun, terkadang sikap nrimo yang terjadi sekarang sama dengan sikap menyerah yang seolah tidak memiliki daya lagi.

Coba bayangkan saja, bila hidup di Jepang! Orang harus punya keahlian, segala biaya hidup tentu mahal apalagi jasa. Bayangkan juga dengan orang Jepang miskin seperti apa kualitas hidupnya? Kita jarang sekali memperhatikan hidup orang-orang dengan kualitas rendah di negara maju. Di Jerman, Perancis, Inggris, dan negara maju lainnya mereka benar-benar menganut sisem Kapitalis. Sehingga bila perusahaan kapitalis itu bangkrut maka jatuhlah seluruhnya. Kuasa Tuhan memang mudah sekali, bukan? Bersyukurlah bangsa kita yang mensyukuri segala keberhasilan juga kegagalannya. Tetapi, bersyukur saja belumlah cukup, bentuk syukur itu harus dibuktikan dengan berusaha untuk menjadi lebih baik lagi.

Orang berhasil karena banyak berusaha, begitu pun sebuah negara, sebuah negara bila menginginkan kemajuan dia harus ekstra keras mengatsi PR-PRnya. Lalu apalagi? Barengi juga dengan strategi emas, manajemen yang cook, dan sebagainya, dan sebagainya. Semua itu begitu mudah dipahami semua orang. Aplikasilah yang menentukan, sikap ingin berubah tentu harus didukung penuh!!!

Bergeraklah, bahkan di dalam sebuah perusahaan sekalipun, ada istilah senior dan junior, yang kadang pengalaman sebagai junior kita lebih banyak menuruti apa yang sudah ada, walaupun itu sejujurnya kurang begitu menguntungkan perusahaan, kita malu mengeluarkan pendapat, takut dimusuhi senior, dan keparanoidan lainnya. Akhirnya kita tak mampu membawa perubahan pada apapun.

Perubahan akan gagal bila tak ada seorang pun yang lantang mengusulkan kegiatan apa yang perlu dihentikan, pos mana yang perlu dipangkas dan tindakan apa yang harus dilakukan. Mental malas harus diubah! Terkadang Junior tak berani untuk bertindak seperti itu, sementara itu senior seperti bergotong-royong bahu membahu untuk tidak mau berubah—alasannya mereka merasa lebih nayaman dengan apa yang ada saat itu.

Memang masa transisi akan menghasilkan cobaan-demi cobaan dan tidak memotivasi kita tentunya. Lalu siapa yang akan berhasil? Merekalah orang-orang yang memiliki kemampuan adversity yang baik, yaitu orang yang memiliki kekuatan menerobos kesulitan, orang yang mampu melawan kegamangan, orang yang mampu mendobrak masuk ke situasi baru, dan orang yang mampu menghentikan kebiasaan lama.

Dia juga harus mampu memotivasi khalayak, sehingga dia harus bekerja sama dengan mereka untuk bahu membahu berubah, mereka harus dituntut komitmennya untuk berubah dan ini dibuktikan dengan saling mengontrol, kemudian terus ditindak lanjuti, dan agar tetap semangat lakukan selalu penguatan spirit dan visi.

Emirsyah Satar, CEO PT Garuda Indonesia yang berhasil menjadi CEO terbaik tahun 2009 membagi tipsnya dalam memajukan perusahaan raksasa negeri ini. Mereka bahu membahu untuk berubah, kerja tiap rantai dipertegas. Batas waktu tiap pekerjaan dipertegas, janji harus ditepati. Dan yang penting juga on-time performance. CEO bekerja sama dengan perusahaan dan perusahaan membutuhkan orang banyak untuk berubah. Nilai-nilai perusahaan Garuda Indonesia yakni FLY HI adalah efficient and effective, loyality, customer centricity, honesty and opennes, and the last is integrity.

Setiap pekerja dipacu mencapai target maksimum dan sebagai seorang CEO, gak perlu segan untuk terjun langsung ke lapangan. Justru CEO harus melihat langsung masalah-masalah di lapangan di mana pekerja bekerja. Disana tak perlu ada sakit hati antara atasan dengan bawahan. Bagaimanapun juga, Indonesia patut dibanggakan. Bangga Indonesia mengapa tidak?!***

Penulis adalah mahasiswa

Sastra Jerman UNPAD

26 December 2009

Catatan Akhir Tahun 2009

Subhanalloh, tiada terasa dan tak terduga kini sudah di penghujung tahun 2009. Aku juga sudah masuk tahun 1431 Hijriyyah. Aku masih ingat saat tahun-tahun 2000an pertama kali aku memprediksikan bagaimana keadaanku di tahun 2010, sepuluh tahun kemudian (Past Perfect Condition-lah kayak lagi belajar Bahasa inggris aja). Akhirnya Alloh Azza Wa Jalla memperkenankan aku menghirup matahari, eh menghirup udara dengan lancar sampai tahun 2009. Tahun 2009 merupakan tahun yang terhitung berat untukku jika dibandingkan dengan tahun-tahun yang pernah aku lewati.

Bulan Januari-Maret 2009

Di awal 2009 yang merupakan semester akhir SMA kelas 3 aku baru merasakan beban yang begitu berat mengingat aku akan sampai pada akhir kehidupan SMA-ku. Banyak sekali kegelisahan dan pertanyaan tentang keluar dari SMA. Hampir setiap waktu otakku dipenuhi pikiran : Ke mana aku setelah keluar SMA. Maklumlah, selama SMA aku diberi fasilitas Pemda Jawa Barat melalui Bina Siswa SMA Plus Cisarua Yayasan Darmaloka yang membuatku sedikit terlena akan limpahan nikmat dan rezeki dari Tuhan. Selama SMA tidak pernah aku melihat tagihan SPP bahkan aku tidak tahu berapa SPP di SMA Negeri 1 Cisarua itu, yang aku tahu hanyalah belajar saja. Uh, pokoknya aku merasa sangat pusing ketika dituntut untuk memutuskan pilihan akan jalan hidup.

Kuliah....Bisa Gak Ya???

So pasti, impianku di penghujung SMA itu tetap bisa menikmati pendidikan, terutama di bangku perkuliahan. tak terbersit dalam hati untuk bekerja, karena aku merasa tajrid (-mengambil istilah Mang Iwan-red), aku lebih suka menuntut ilmu dulu, mengasah kemampuan dan skill.

Beasiswa-beasiswa

Tawaran dari Universitas pun berdatangan, alhamdulillah SMA ku tidak ketinggalan kalau soal info beasiswa, maklum faktor utamanya kakak-kakak kelas yang "berehan" (terima kasih ya...akang). Celakanya, malah membuat aku semakin pusing, bingung, lieur bin keder. Dimulai dari tawaran PMDK UI yang aku tolak (mengapa ya??). soalnya saat itu hatiku terpaut di ITB, dan takut akan biaya (hiii sereem). lalu sampa UNAS PASIM melalui program PUB PASImnya sampai aku coba PMDK STIE Bank Jabar, wah..ribet deh njelimet....

Bulan April-Mei 2009

UN di bulan April dan aku masuk BIUS (Beasiswa ITB Untuk Semua )2009, lalu USM Terpusat 30 Mei 2009 yang ternyata kandas tinggal impian...Bukan jalannya mungkin...

Bulan Juli 2009

Masih teringat menit-menit terkahir di Cisarua, aku tak percaya sedang meninggalkan asrama tercinta yang telah memetamorfosaku menjadi seorang yang mandiri di Cisarua, bersama keluargaku di mobil paman, aku tak pernah mau memejamkan mata untuk melihat alam Cisarua, Ya Alloh, hidupku akan berubah lagi...

Setelah perpisahan dan pelepasan resmi dari pihak Bina Siswa SMA Plus Cisarua, aku merasa semakin bingung sebingung-bingungnya, kenapa akau tak ambil PMDK UI dan IPB yang di depan mata? Tapi aku pasrah dan tawakal dan selalu menghibur diri, tak lupa aku hibur juga orang tua.

Tak mau kehilangan kesempatan, aku mengikuti test STAN di Cimahi, aku kembali menginap di Cisarua, tetapi bukan di asrama, melainkan di rumah Pak RW (terima Kaih banget atas nasinya selama seminggu). walaupun selalu sedih bila memandang asrama, aku selalu berusaha mengingatkan bahwa hidup harus berubah. Kita hidup bukan untuk sukses, melainkan untuk menempuh jalan berkerikil dan berduri agar kita bisa belajar pada pengalaman.

Kandas Episode Dua

Pengumuman STAN pun datang, ternyata masih tak ada di berkas pengumuman nama "Rizal Muttaqin". ah... aku pasrah Ya Tuhan, mungkin bukan sekarang aku bisa kuliah. Inilah jalanmu Ya Rabb. Tak ada yang sia-sia, semuanya adalah jalan terbaik dari-Mu. aku hanya berdo'a agar aku bisa dijadikan insan yang mampu mengambil hikmah dari segala suratan-Mu Ya Ilahi.

harapanku satu-satunya adalah beasiswa Paramadina Fellowship 2009. Aku masih "kukulintingan" di Cisarua. Ternyata tanggal 31 Juli 2009 aku bisa melihat rencana Tuhan, rencana yang sangat indah untuk disyukuri, suatu nikmat yang sangat besar, aku bisa mendapat satu kursi perguruan tinggi di antara insan muda penuh harap yang lain. Syukron ya Alloh, aku bisa terus menuntut ilmu di bangku perkuliahan.

Bulan Agustus Desember 2009

Jalan hidup harus selalu berubah, setelah "Berkelana I" di kabupaten Bandung Barat, kini aku lanjutkan episode "Berkelana II" (kayak Rhoma Irama aja) di Jakarta Selatan, kota tempat ayahku bekerja menjadi buruh montir dulu. Ayah, aku mohon do'a restumu di kota tempat dulu engkau memperjuangkan napas hidupmu. Ibu, lepaskan anakmu ini di kota yang siap dengan beribu tantangannya.


07 December 2009

Merekonstruksi Definisi Kebahagiaan

Pernah tergelitik untuk mencari tahu apa arti dari kebahagiaan?

Banyak pakar telah memaparkan apa dan bagaimana kebahagiaan itu. bagaimana kesuksesan itu. Ada beberapa yang nyeleneh, kebahagiaan adalah mendapat apa yang kita inginkan, tidak peduli jenis yang kita ingini itu, apabila kebutuhan sudah tercapai, tentunya keinginan menggerutu. Ada pula orang yang mengatakan kebahagiaan itu adalah "Proses perjuangan dalam mencapai keinginan".

Ya, itu terserah...tetapi tidakkah Anda tahu bahwa sebenarnya kebahagiaan itu ada dalam dri kita sendiri, terbenam dan terpendam, tinggal bagaimana kita menemukannya. Kebahagiaan itu didapat jika kita berani membuang syarat-syarat yang menjebak dii kita untuk mendefinisikan kebahagiaan. Kebahagiaan itu ada ketika kita tidak membuat banyak pesyaratan pada diri kita tentang kebahagiaan. Banyak orang yang mempersyaratkan kebahagiaan itu adalah mencapai posisi jabatan puncak, mendapat uang yang banyak, atau sebagainya. Padahal, jika kita mau menelusuri kebahagiaan sejati itu muncul ketika kita ikhlas melepas syarat-syarat tersebut. Apapun diri Anda, jangan membuat syarat-syarat untuk mencapai kebahagiaan. Qona'ah dengan nikmat yang Alloh berikan, tapi bukan berarti pasrah dan menyerah pada keadaan. hal terpenting setelah kita berusaha dan Tuhan menetukan jawaban, kita bahagia untuk tidak mempersyaratkan hasil yang memuaskan.

Maka berbahagialah orang-orang yang lepas dari syarat kebahagiaan.

03 November 2009

Kebebasan : Bebas Berbuat Terbaik tanpa Keterpaksaan

Sebatang anak tangga bukanlah sebagai tempat istirahat sebelah kaki si pemanjat, tetapi sekadar tempat berpijak sejenak, cukup untuk meletakkan kaki sebelah pada tempat yang lebih tinggi. (Thomas Henry Huxley)


Aku sering tertawa sekaligus terharu tatkala membaca buku "Chicken Soup for College Soul", buku inspiratif itu aku baca semata-mata ingin menertawakan dan mengahrukan diriku sendiri yang sekarang berada di lingkungan dan situasi dalam buku itu. Gue Banget lah,. Ternyata, kuliah itu bukan semata-mata meneguk kata "kebebasan". Memasuki masa kuliah memang merupakan gerbang akhir. Kata "teenager" dalam Bahasa Inggris yang intisarinya berarti "teen" atau belasan (11, 12, 13...19) saat-saat kuliah akan terlepas. Wajar, walau alhamdulillah kali ini aku diberi kesempatan dan kebahagiaan langsung bisa duduk di bangku perguruan tinggi sehabis melepas SMA,aku sangat sadar bahwa atribut "teenager" akan segera aku tinggalkan tak lama lagi menuju umur "tweenager". Kuliah bukan berarti menjadi diri yang lain, melainkan mencapai suatu kenyamanan demi mempersiapkan kehidupan yang nyata. (Lho, emang kuliah gak nyata?). Nggak, maksudnya kehidupan nyata itu tatkala kita kita sudah dapat dikatakan dewasa secara umur maupun secara sikap.


Kebebasan dalam bertindak yang tiba karena konsep kedewasaan yang berubah ketika kuliah justru menjadi boomerang diri. Betapa tidak, aku masih teringat saat SMA dahulu diasramakan dengan segudang peraturan asrama yang bisa membuat anak asrama menggerutu, mencaci di belakang para Pembina Asrama justru menjadi sebuah kerinduan tersendiri. Rasanya sedih teringat dahulu aku tidak pernah bisa mencerna arti "Ini untuk kebaikan kalian semua", baru setelah semua ketakbebasan itu menghilang, kebebasan meraung-raung merindukan keterikatan. Tapi, inilah hidup.... tak ada yang perlu disesali, tak ada yang perlu diratapi. Saatnya, menjadi Pembina untuk diri sendiri, sekarang bangunlah citra positif bagi si "kebebasan" agar tidak "kebablasan". Jadikanlah momen kebebasan untuk berbuat positif tanpa ada keterpaksaan.

11 June 2009

Asal-Usul Kata "Seluler" di Ponsel


Sebenernya aku ga nyangka penetrasi HaPe alias Ponsel demikian meraturelanya ampe para pengemis di Masjid Agung Kota Tasikmakaya pun tak urung megang mobile telephone. Ponsel kini menjadi barang lumrah bagi gol. masyarakat menengah ke bawah, semua punya, atau minimal megang lah.

Tapi tau ga temans? ponsel ntu sebebnernya radio. Aneh khan? tapi ponsel dan radio ternyata sama.

Sebelum ponsel muncul, orang memakai telepon radio di mobil mereka. Dalam sistem telepon radio, ada menara semtral yang berisi 25 channel u/ satu kota. Sementara dalam sistem ponsel, area dalam kota dibagi dalam sejumlah sel-sel kecil. Hal ini memudahkan frekuensi bisa dipake berulang-ulang secara terus menerus di deputar kota tersebut. ALhasil jutaan orang bisa memakai ponsel secara bersamaan.

Lebih jelasnya, operator ponsel membelah sebuah area (misalnya kota) menjadi beberapa sel. Setiap sel biasanya bedrukuran sampe dg 10 mil persegi. Setiap sel didibaratkan seperti sebuah heksagon. Setiap sel punya base station yg terdiri dari menara dan gedung kecil berisi peralatan radio. Setiap ponsel khan punya transmitter yang berhubungan dg transmitter di base station.

Transmisi sinyal radio antara base station dg ponsel berlangsung dlm sel atau ga jauh dari sebuah wilayah. Dalam satu sel itu ada 56 frekueansi yg bisa dipake penggun aponsel. Makanya dlm sebuah sel semua pengguna ponsel bisa memakai ponselnya bersamaan.

Supaya ponsel bisa dipake di seluruh sudut area, operator kudu ngebangun banyak base station. Bisa ratusan kalo di kawasan kayak Jakarta mah.

Setiap operator juga punya yang namenye MTSO (Mobile Telephone Switching Office) yg tugasnya ngatur semua ponsel ke telepon rumah dan ngontrol semua base station dlm sebuah wilayah.

Prak-prakannya kayak gini, misalkan kita memakai ponsel di sel D. Di sekitar daerah D ada base station yg menghubungkan sinyal ponsel kita dg ponsel lain di sel yg berbeda. Nah, berhubung lita naek mobil, pasti lita bergerak. Begitu menjauh, base station D akan mendeteksi sinyal ponsel kita ketika mulai melemah. Secara bersamaan kita bergerak ke sel B yg diatur oleh base station B. Sinyal ponsel kita akan menguat begitu masuk wilayah base station ini. Koordinasi anatara satu base station satu sg yg laennya inilah yg diatur MTSO.

Nah, gara-gara bekerja dlm sebuah sel-sel yg diatur oleh basea station, tetpon genggam yg kita pale disebut telepon seluler.

Sumber : Majalah Hai 41/XXIX/10 OKTOBER 2005

06 June 2009

Terima Kasih (Sebuah Ungkapan untuk Panitia Beasiswa ITB Untuk Semua)


Dahsyat n keren!!! Itu kata-kata yang paling pantas aku lontarkan ketika USM-ITB, lebih tepatnya PMPB ITB. Tak seperti sebagian besar peserta lainnya, aku mengikuti PMBP ITB Terpusat jalur Beasiswa ITB Untuk Semua. Program beasiswa baru di ITB ini menyisakan pengalamna yang sangat berharga yang tak pernah terbayangkan sebelumnya.

Ali Taufiq, Aminudin dan aku adalah tiga kontingen asrama BIna Siswa SMA Plus yang nimbrung BIUS ini. Itulah saat pertama kali aku bertemu dg sang ITB, kampusnya membuat aku tercengang! Aku diasramakan di PUSSENIF bersama 195 kontingen lainnya. Ad aorang Aceh, Jambi, NTB, sampai Papua pun ada, apalagi dominasi Pulau Jawa.

Awalnya aku sangat bingung dengan BIUS ini. Ternyata, bukan masalah jenis beasiswanya, karena di ITB itu ada sekitar 7000 beasiswa. Wuiih, buanyak banget, dan Beasiswa ITB Untuk Semua ini meneyeleksi "Siapa yang Semangat dan Siapa yang Mengeluh". Dari sekitar 3170 orang , diambil sekitar 400 orang yang mempunyai semangat untuk maju. Dari sana, dipilih 200 orang berdasarkan nilainya.

Terharu sekali aku merasakan aura semangat pengorbanan para panitia relawan alumnus IB yang rela keluar keringat, materi, dan waktu melancarkan kami untuk mengikuti PMBP ITB. Aku teringat saat pukul 10:30 hari Jum'at antrian untuk mengambil Tanda Peserta, sementara Surat Keterangan Bebas Buta Warna belum kelar, panitia tanpa basa-basi menyerbu poliklinik (gak tau apa namanya) ITB untuk buat SK Buta Warna, semua biaya Ditanggung Panitia!! Salah seorang panitia pun menyesalkan penurunan semangat untuk membantu generasi sekarang, kuliat kelelahan tercermin di wajah mereka, namun tetap dihiasi keikhlasan. O, ya sewaktu Aminudin belum buka puasa karena situasi, tidak tanggung2 Kak Catur memberikan 50.000 rupiah tanpa basa-basi,

Walaupun hanya empat hari, kenangan itu tak akan pernah kulupakan bahkan sepanjang akhir hayatku. Dan walaupun aku misalnya tidak lulus USM-ITB, pengorbanan Kakak-kakak Panitia Beasiswa ITB Untuk Semua akna selalu aku ingat. Dan aku punya sebuah keluarga baru di BIUS itu,hee

GOES TO ITB!!!

ITB Untuk Semua

02 May 2009

Flashback..........Dikit

Flashback hidup ini membuai kenangan yang tergerus dalam mimpi kemarin malam. Tak kusangka dalam minggu-mingu yang terukur jari aku kan melepaskan putih abuku menyongsong satu lagi babak baru hidup. Bukan maksud hati menampik perubahan yang diekori tantangan demi tantangan, karena itu adalah pendulum Tuhan yang tak dapat terelakkan.

Kadang tertancapkan suatu pertanyaan filosofis yang kurang enak dibahas, mengejar hari-hariku yang terkesan monoton di asrama. Sebuah pertanyaan..oh tidak, beberapa buah pertanyaan mendasar, mungkin Aristoteles pun pernah dihinggapinya. Esensi hidup ini selalu menyisakan pertanyaan tentang kebersihan hati, kemurnian dari sifat-sifat riya. Tanpa keraguan sedikit pun, telah terpoles bahwa aku memang seseorang yang tidak bisa mencintai Alloh secara menyeluruh, atau mungkin sedikit sekali ruang hati yag tersedia untuk-Nya. Buta...benar-benar buta. Ya Alloh, aku risih dilahirkan di zaman edan seperti ini karena ketidakistiqomahanku. Terbersit angan aku ingin disejajarkan dengan Khulafaur Rasyidin yang sudah dijamin surga pun, mereka senantiasa menyerahkan seganjil (genap) jiwa raganya untuk Tuhan Semesta Alam. Ah, terlalu mengkhayal mungkin.

18 tahun masa yang kutapaki, sesingkat air kran menetes, semimpi dikejar hari. Dapat dikatakan dua tahun lagi masa akhir remaja. Aku masih berpikiran :"AKU ANAK 12 TAHUN". Kadang aku merasa iri melihat keceriaan anak-anak SD di lapangan futsal asrama dekat ruang cuci seakan aku tak menerima akumulasi tanggungjawab yang ku terima seiring pertambahan umurku. Kuterima tempaan Kawah Chandra Dimuka asrama ini tanpa menempa pikiran tadi. Aku ini anak tadi sore dari Kampung Benteng yang tahu-tahu mau menutup gerbang SMA. Huh, benar sekali singkat sekali hidup ini. Sayang kalau dihabiskan dengan gaya sok jadi surga. Bukan, sobat, ini bukan surga yang dimaksud, dunia ini adalah hanya sebatas ladang. Tapi, tanaman, tanah, matahari, air, udara dan kesuburan ladang ini kita rengkuh sebaik-baiknya.

Ah, temans maaf ini hanya curahan bagi para pendengar hati, atau remaja yang dalam ketaksadaran akan lorong hidupnya. Ya, kuharap kalian mau menyadari dan aku juga ingin sadar bahwa jalan skenario Tuhan adalah yang terbaik apabila kau mau mempergunakannya sesuai koridor Tuhan. Hidup adalah daging yang perlu dimasak dan Islam adalah bumbunya, begitu kata Ali Taufiq sang Ketua DKM Masjid asrama.

10 April 2009

27 November 2008

Pahlawan, Pembelajaran Secara Otodidak, dan Produk-Produk Bahasa Indonesia

Oleh Khoerullana

Terlepas dari formal tidaknya seorang warga negara Indonesia dalam menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, adalah karena adanya kebutuhan primer yang harus dijaga dan dilestarikan. Sebab ada keuntungan yang didapat bagi warga negara yang menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar, ada nilai tambah yang tidak didapat masyarakat yang tak acuh dengan bahasa Indonesia.


Orang-orang dalam perusahaan yang biasanya orang-orang berpendidikan akan lebih menghargai masyarakat yang giat menggunakan bahasa Indonesia yang sesuai kaidah-kaidah EYD (Ejaan Yang Disempurnakan) . Mereka akan menyebutnya orang indonesia sejati (pure Indonesian). Kesannya pun akan berbeda dengan masyarakat yang menggunakan bahasa Indonesia secara acak-acakkan. Ada kesan tidak terpelajar! Logikanya orang yang salah menggunakan bahasa Indonesia disebabkan karena ketidaktahuan mereka, sementara orang yang berbehasa Indonesia dengan rapih, tersusun, dan tertib, karena mereka tahu. Jelas disinilah masyarakat Indonesia diuji, berapa perbandingan masyarakat terpelajar dengan yang tidak terpelajar? Lebih spesifik lagi, berapa perbandingan kaum terpelajar yang peduli dengan bahasa Indonesia dengan kaum terpelajar yang cuek dengan bahasa resminya sendiri?

Mari kita sebut sebagai pahlawan masyarakat yang benar-benar peduli dengan bahasanya sendiri. Bukan untuk maksud tidak jelas, justru mereka perlu dihargai agar mereka terus mengkomunikasikan bahasa Indonesia yang sebenarnya. Pahlawan-pahlawan bahasa Indonesia itu tidak segan-segan mengoreksi kata-kata yang keluar dari orang-orang di lingkungan sekitarnya kalau memang yang keluar adalah kata-kata yang salah. Siapapun itu yang mengatakannya, kalau salah ya perlu diperbaiki.

Bagaimana dengan para guru? Inilah bagian penting yang cukup disayangkan. Selama dia masih menjadi guru, tentunya dia sadar bahwa apa yang diucapkan dan dilakukannya sering ditiru oleh para siswanya, parahnya ucapan-ucapan yang salah menurut kaidah-kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar sering membekas di kepala para pelajar. Misalnya saja kata jadwal, masih saja ada yang meyakini bahwa kata jadual adalah kata baku dari jadwal. Itu terjadi sampai siswa itu menjadi guru. Sangat disesalkan bukan? Hanya karena salah membaca daftar kata baku dan kata tidak baku, dia harus menyebarkan kesalahan yang ia tidak sadari itu! Disinilah peran pelajar untuk aktif dalam mencari kebenaran ilmu-ilmu yang mereka pelajari di sekolah. Belajar otodidak adalah solusinya!

Adanya solusi-solusi praktis itu relatif adanya, tiap orang punya seninya sendiri, sehingga jika penulis merasa aman dengan hanya memperhatikan kolom kata baku saja tanpa harus menengok ke kolom kata tidak baku maka yang lain belum tentu menguasai dengan cara seperti itu.

Maraknay pembelajaran secara otodidak dipicu akan adanya sesuatu hal penting yang tidak didapat di sekolah, misalnya saja praktikum yang minim atau tidak mendetailnya suatu pelajaran yang para siswa sukai. Sebab bagaimanapun juga, sekolah terikat pada silabus dan materi-materi yang harus dipelajari, sehingga guru tidak punya cukup waktu untuk menjelaskan secara detail. Disinilah peran guru dalam mengolah materi pelajarannya secara kreatif, efektif, dan efisien. Memang sulit menemukan guru semcam itu, tetapi tiap sekolah pasti memilki guru yang masih menunjukkan geliatnya dalam usaha mencerdaskan anak. Biasanya pengorbanan mereka akan tampak, siswa pun cukup pandai dalam menilai mana guru yang oke atau modern dan mana guru yng kuno, ini bisa dilihat dari cara guru mengajar, apakah ia terpaku pada teks seperti dulu waktu si guru itu masih belajar atau sudah memakai laptop tiap kali pertemuan. Semua itu tergambar dengan jelas, jauh sekali perbedaannya!

Namun hal yang lebih menentukan adalah dari keseriusan guru itu sendiri dalam mengajarkan ilmunya. Karena apapun media pembelajarannya, jika gurunya sungguh-sungguh dan ingin mencerdasakan anak didiknya secara serius, maka keberhasilan dijamin akan ada ditangan. Kalau pun ada kegagalan, itu hanyalah batu sandungan kecil yang bisa dimasukkan ke dalam kantong “Proses menuju Sukses!”

Kalau begitu, bahasa Indonesia pun akan dapat bersinar lagi, kalau saja perbandingan antara pahlawan + guru dengan masyarakat awam + masyarakat yang cuek lebih berat pahlawan + guru dibandingkan masyarakat awam + masyarakat yang cuek. Hanya kalau sudah begini kondisinya, dimana bahasa Indonesia hanya sebagai bahasa saja, tanpa ada esensi lainnya. Tugas kita bersamalah selaku warga negara Indonesia, kita mulai dari yang terkecil sajalah dahulu, misalnya saja kita sudah mulai menggunakan kata baku sedikit demi sedikit secara konsisten dan terus merangkak ke arah yang lebih besar. Dan perubahan pun akan tampak dengan jelas. Itu perlu dibiasakan! Kebiasaan yang mantap akan meringankan beban. Ya, sudah tidak dianggap batu lagi kalau sudah terbiasa, bukan begitu?

Jika masalahnya seperti tadi, belajar sendiri saja! Buku Praktis Bahasa Indonesia 1 dan 2 yang diterbitkan oleh Pusat Bahasa Depdiknas atau buku lainnya yang bisa dipakai sebagai referensi atau buku panduan dalam mempelajari bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Dan seharusnya mereka terkejut melihat buku bahasa Indonesia di perpustakaan sekolah masih bersih seperti bayi yang baru lahir. Memang kenyataannya fakultas bahasa Indonesia tidak kehilangan para peminat, tetapi mereka kurang memahami apa yang seharusnya dilakukan sebagai guru bahasa Indonesia melihat derajat bahasa Indonesia di bawah pelajaran eksak atau di bawah pelajaran-pelajaran yang di-UN-kan.

Sebagai siswa eksak, bahasa Indonesia terkesan seperti makanan ringan dibandingkan pelajaran lain yang di-UN-kan, hal ini terbukti saat UN digelar, mereka akan mengakhirkan atau memberi jatah sisa pada pelajaran bahasa Indonesia. Mereka lebih mengutamakan memberi porsi lebih pada pelajaran lain.

Wajar saja itu terjadi karena dari segi materi bahasa Indonesia berisi bacaan-bacaan yang tersusun dari huruf-huruf. Sementara pelajaran eksak tersusun dari rumus-rumus dan angka-angka yang kebanyakan harus dibiasakan dengan otretan.

Bukan bermaksud memburukkan bahasa Indonesia ataupun guru bahasa Indonesia, karena kalau berpikiran buruk, maka keburukanlah yang dihasilkan.

Ditelisik lebih jauh, bahasa indonesia seharusnya menjadi bahasa Internasional, bukan tidak mungkin itu terjadi. Karena tidak sedikit orang barat yang belajar bahasa Indonesia kalau pembaca tahu. Dan seharusnya itu bisa dijadikan sinyal menuju impian itu! Penulis yakin pembaca tidak percaya kalau bahasa Indonesia bisa dijadikan bahasa Internasional, minimal di Asia tenggara! Dan ketidakyakinan itulah yang menyebabkan bahasa Indonesia diam di tempat eh jalan di tempat.

Padahal, di luar negeri sana ada produk-produk bahasa Indonesia yang cukup berpengaruh dan tentunya cukup dikenal di dunia literasi dunia. Sebut saja novel-novel Pramoedya Ananta Tour yang sudah ditranslit ke beberapa bahasa asing, atau puisi-puisinya Ajip Rosidi yang juga sudah go internasional! Dan karya pengarang-pengarang lainnya yang tidak kalah luar biasa.

Ironi memang kalau melihat produk sastra indonesia di tanah airnya sendiri tidak cukup digemari, alasannya klasik : budaya baca yang rendah! Mereka lebih suka melihat pertunjukan teater tau film dari suatu novel daripada membaca langsung novelnya itu sendiri. Disini jelas bahasa Indonesia tidak cukup cerdas mengelola dunia literasi mereka sendiri. Penyebab lainnya yang bisa dijadikan tekanan mengapa konsumen buku di Indonesia belum mencapai klimaks adalah harga buku yang relatif mahal dan tidak cocok di saku-saku kaum miskin. Kalau pun ada yang murah, isi dan kualitasnya tidak best seller-best seller amat!

Kekayaan produk-produk bahasa Indonesia tidak bisa di ukur dengan apapun, karena itu sudah menjadi darah daging warga Indonesia dan menjadi ikon tersendiri di mata masyarakat dunia tentang Indonesia. Kesusastraan Indonesia yang berawal dari kebudayaan melayu dengan pengaruh-pengaruhnya dari kebudayaan asing melahirkan kebudayaan Indonesia yang unik dan tak ada duanya. Salah satu bentuk kebudayaan itu adalah kesusastraan.

Dari buku praktik bahasa Indonesia menyebutkan bahwa ada 3 aspek yang harus ada dalam karya sastra, yaitu keindahan, kejujuran, dan kebenaran. Jika ada karya sastra yang mengorbankan salah satu aspek ini, misalnya karena alasan komersial, maka sastra itu kurang baik.

Menganalisis kondisi sekarang, buku-buku sastra dijual dan dicetak-ulang dengan faktor utama karena keuntungan fiansial, maka jangan heran kalau pembaca menemukan novel Siti Nurbaya dengan kover yang lebih remaja. Selain bertujuan menarik minat para remaja untuk membaca karya sastra bermutu, tujuan lain agar orderan buku bisa kembali berkibar lewat karya satrawan-satrawan Indoensia kelas atas dengan tampilan anyar. Kalau yang seperti itu, tujuan utamanya kurang baik.

Masalahnya, masyarakat sering merasa dibodohi ketika isi buku yang telah dibelinya tidak sesuai harapan, alias garing. Karenanya masyarakat perlu tahu karya sastra yang bagaimana yang perlu dibeli. Dalam memilih karya sastra sebagai bahan bacaan, tentu kita harus selalu mengupayakan yang terbaik. Untuk itu, kita perlu mengetahui setidaknya tiga macam norma atau nilai yang menjadi cirinya, yaitu norma estetika, sastra, dan moral.

Norma Estetika

Pertama, karya itu mampu menghidupkan atau memperbarui pengetahuan pembaca, menuntunya melihat berbagai kenyataan kehidupan, dan memberikan orientasi baru terhadap apa yang dimiliki. Kedua, karya sastra itu mampu membangkitkan aspirasi pembaca untuk berpikir dan berbuat lebih banyak dan lebih baik bagi penyempurnaan kehidupannya. Ketiga, karya sastra itu mampu memperlihatkan peristiwa kebudayaan, sosial, keagamaan, atau politik masa lalu dalam kaitannya dengan peristiwa masa kini dan masa datang. Itulah sebabnya pengalaman (batin) yang diperoleh pembaca dari karya sastra yang dibacanya disebut pengalaman estetik.

Norma Sastra

Pertama, karya itu merefleksi kebenaran kehidupan manusia. Artinya, karya itu membekali pembaca dengan pengetahuan dan apresiasi yang mendalam tentang hakikat manusia dan kemanusiaan serta memperkaya wawasannya mengenai arti hidup dan kehidupan ini. Kedua, karya itu mempunyai daya hidup yang tinggi, yang senantiasa menarik bila dibaca kapan saja. Ketiga, karya itu menyuguhkan kenikmatan, kesenangan, dan keindahan karena strukturnya yang tersusun apik dan selaras.

Norma Moral

Kaya sastra disebut memilki norma moral apabila menyajikan, mendukung, dan menghargai nilai-nilai kehidupan yang berlaku. Nilai-keagamaan yang disajikan, misalnya, harus mampu memperkukuh kepercayaan pembaca terhadap agama yang dianutnya.

Berikut nilai-nilai (intisari) kehidupan yang terkandung dalam beberapa karya sastra:

Marah Rusli : “Memang kurang baik membuang yang lama karena mendapat yang baru. Tetapi ada di antara adat dan aturan lama itu, yang sesungguhnya baik pada zaman dahulu, tetapi kurang baik atau tak berguna lagi waktu sekarang ini. Adalah halnya seperti pakaian tatkala mula-mula dibeli, boleh dan baik dipakai, tetapi makin lama ia makin tua dan lapuk; akhirnya koyak-koyak, tak dapat dipergunakan lagi…. Demikian juga adat itu, bertukar-tukar menurut zaman. Walaupun tiada disengaja menukarnya, ia kan berganti juga; sebab tak ada yang tetap. Sekali air pasang, sekali tepian beralih….” (Siti Nurbaya, Bab XII)

Iwan Simatupang: ”Pada setiap bunuh diri terdapat dua kali ’korban’ dan dua kali perkataan ’terdakwa’. Si korban sekaligus membalas pembunuhan atas dirinya pada saat itu juga, dimana dia jadinya bertindak sebagai pembunuh. Tegasnya, sebagai sang terdakwa baru. Sedang si terdakwa sekaligus mengalami pembunuhan atas dirinya pada saat itu juga. Tegasnya, sang korban baru.” (Ziarah)

Nugroho Notosusanto: ”Di dalam hantaman-hantaman nasib dan dalam gelombang kebinatangan, inti daripada pribadi kemanusiaan bertunas, berkembang. Mengatasi pikiran, mengatasi egoisme, mengatasi moral. Berkorban adalah sifat manusia yang sangat membedakannya daripada hewan.” (Hujan Kepagian)

Demikianlah kesusastraan sebagai salah satu produk bahasa Indonesia. Nilai-nilai yang terkandung di dalam karya sastra, tak akan lepas dari filosofi-filosofi dan pengalaman para sastrawan. Begitu indahnya dunia, begitu tentramnya jiwa atau kemelut yang terkandung dalam hidup akan adanya pemikiran sastrawan yang seringkali menjadi tulisan. Kini tugas kitalah meneruskan apa yang mereka cita-citakan, menjunjung nilai-nilai moral dan memaparkan keonaran demi keonaran yang terjadi di masyarakat agar mereka bisa berkaca dan ikut berpikir serta mencari solusinya.

Akhirnya, satu kata mutiara yang penulis cantumkan disini hanya untuk memberi suatu kekuatan untuk terus berkarya yang dalam hal ini tentang menulis sebagai salah satu keahlian dari pelajaran bahasa indonesia.
Jika ada buku yang ingin kau baca, tapi buku itubelum ditulis, maka kaulahyang harus menulisnya.
-Toni Morison

Mekarnya Kemandirian Umat di Hiruk Pikuk Organisasi


Oleh Khoerullana
Saban minggu ibu-ibu Rumah Tangga itu keluar menuju masjid Jami’ di desanya, kerudungnya yang anggun bervariasi warna menambah elok penampilan mereka pagi ini. Tua-muda sama saja terkesan berwibawa. Mereka adalah jamaah masjid Ta’lim yang rutin mengikuti ceramah-ceramah keagamaan. Atau setiap jumat siang, mereka berkumpul untuk shalawatan yang sering popular dengan sebutan barjanji.

Contoh lain, pemuda-pemuda lajang yang tergabung dalam IRMAS (Ikatan Remaja Masjid) aktif membantu pengadaan kegiatan-kegiatan keagamaan dan membantu pembangunan bangunan-bangunan agamis maupun sosialis. Tidak hanya itu, anak-anak yang setiap sore pergi mengaji di TPA (Tempat Pendidikan Anak-Anak) menambah syahdu keindahan budaya muslim ditengah-tengah kegersangan masyarakat. Walaupun demikian, tidak sedikit masyarakat yang benar-benar tidak punya identitas keislamannya (lenyapnya identitas jati diri ) alias tidak mengacuhkan budaya Islam. Setiap adzan mengalun merdu, mereka merasa terusik. TV selalu menyala dari Maghrib sampai larut malam. Anak-anak mereka tidak jauh berbeda dengan induknya. Emosi tak terkendali, kemiskinan menghantui para penganggur berpendidikan. Lantas apa yang bisa diharapkan dari hidup ? Ketika keegoisan menghalangi manusia bersilaturrahmi beberapa saat untuk mengisi kekosongan ruhaninya. Pertahanan iman mereka lemah saat masalah menghambat dan menerkam. Dengan mudahnya angin sepoi menghempaskan mereka ke jurang. Dan mati dalam keadaan cinta dunia yang berlebihan. Naudzubillah….

Tidak salah jika Eckhart Tolle, seorang guru spiritual mengatakan, “ Persoalan umat manusia berakar kuat di dalam pikiran itu sendiri. Atau bahkan, kesalahan identifikasi kita dengan pikiran.” Maksudnya setiap permasalahan yang menghinggapi seseorang terjadi karena belenggu-belenggu pikirannya sendiri, pikirannya bukan miliknya yang alami, melainkan pikiran yang sudah terkontaminasi dengan ambisi, ego, harapan, dan keinginan yang mengarah pada hal duniawi, kebendaan, materialistik, permisivisme (serba boleh), dan hedonisme. Begitulah kira-kira kesimpulan yang penulis dapatkan dari bukunya Eckhart Tolle yaitu,” Membaca Pikiran Mendulang Kekuatan Spiritual.”

Eckhart Tolle baru menemukannya di abad ke-21, padahal Allah sudah memberitahukan hal itu jauh-jauh hari lalu di dalam Al-Qur’an-Nya Yang Maha Benar. Allah memberitahukan bahwa keadaan manusia itu bergantung dari apa yang dipikirkannya. Manusia akan terus saja dibelenggu dalam ketidak-percayadirian-nya dan ketidak-berdayaan-nya menghadapi persaingan apabila dia masih memiliki anggapan lemah tentang dirinya.

Kelemahan mental yang menimpa sebagian besar masyarakat muslim cenderung menganggap dirinya tak berharga. Menyebabkan tidak berkembangnya potensi yang mereka miliki. Mereka gampang puas dengan keberhasilan jangka pendek dan merasa tidak yakin dengan jangka panjang. Namun yang lebih parah dari kelemahan mental dan matinya potensi adalah hati yank keras dan kasar. Kalau sudah begitu, peristiwa kematian tidak memberi pengaruh apapun, lebih cinta pada kesenangan duniawi dan lebih senang menunda kebaikan daripada melakukan kreativitas apapun untuk meningkatkan kualitas ibadah.

Ketiga permasalahn umat yang bersifat personal tadi saling berkaitan satu sama lain, tidak terjual terpisah. Bisa disimpulkan kalau masyarakat sekarang mengalami kondisi sakit jiwa parah. Perlu dicari obatnya segera.

Menurut WHO (World Health Organization), jiwa seseorang dikatakan sehat jika memiliki ciri sebagai berikut, yaitu : Bersikap positif pada diri sendiri dan dapat menyesuaikan diri secara baik dengan lingkungannya; Lebih puas mendapatkan sesuatu melalui proses perjuangan daripada instant; Lebih puas memberi daripada menerima serta hubungan yang saling menolong; Menerima kekecewaan untuk pelajaran yang akan datang; dan memiliki kasih sayang yang mengarahkan rasa permusuhan pada penyelesaian yang kreatif.

Seharusnya kita patut bersyukur karena Islam memiliki obat yang mujarab. Ada 2 paket yang perlu kita tempuh untuk menyembuhkan hati yang sakit, paket pertama yang berhubungan dengan kepekaan jiwa, berisi 3 kapsul, yaitu: Waspada pada pengawasan Allah; Mengingat kematian dan kehidupan sesudahnya dan; Membayangkan hari akhirat. Paket kedua terdiri dari 6 kapsul yaitu: Memperbanyak membaca Al-Qur’an dan mentadaburinya; Dzikrullah dengan hati, lisan, pikiran, dan perbuatan yang pasti akan mendapatkan jaminan ketenangan batin; Berperilaku sesuai dengan akhlak Rasulullah SAW agar mendapatkan kemuliaan di dunia dan akhirat; dan bergaul atau berteman dengan orang-orang sholeh; serta membiasakan diri dengan menangis karena takut akan azab Allah.

Satu kapsul yang akan penulis paparkan yaitu berteman dengan orang-orang shalih. Bagaimanapun keadaannya, seorang sahabat akan sangat berarti untuk selalu memberikan nasihat atau masukan yang membangun atau setidaknya men-support dan memberikan semangat saat jiwa benar-benar butuh itu. Jiwa kembali terisi energi positif dan menghindari kekosongan ruh yang berdampak negatif.kekuatan untuk menerjang segala rintangan dari syaitan bisa kita dapatkan dari ukhuwah ( ikatan persaudaraan) islamiyah.

Organisasi yang patut dijadikan contoh adalah organisasi yang dipimpin oleh Muhammmad bin Abdullah. Organisasinya yang bertujuan menegakkan kalimat Laa ilaha Ilallah itu berjuang mati-matian. Titik darah penghabisan bukanlah slogan semata, melainkan sebagai alat untuk membayar kemenangan hakiki dari Allah. Tidakkah kita berpikir, bahwa untuk mendapatkan ke-Ridha-an Allah tidak cukup hanya dengan puas berdzikir tiap pagi dan sore. Perjuangan yang panjang disertai pengorbanan yang tidak sedikit, bahkan nyawa pun harus rela dikorbankan. Selama 23 tahun Rasulullah menempuh perjalanan hidupnya hanya untuk tujuan mulia itu. Dia rela melepaskan napsu-napsu keduniawiannya yang tidak berharga. Dia rela disakiti kaum kafir, dilecehkan, dihina, hingga kaum kafir itu ingin membunuhnya. Sungguh meleset yang didapat kaum kafir itu, Rasulullah tetap menjalani hari-harinya dengan sabar dan penuh senyum keikhlasan. Baginya hal semacam itu bukan untuk ditakuti, melainkan harus ditebas dengan akhlak mulia. Bukankah Rasulallah diutus untuk menyempurnkan akhlak yang baik ?

Itu saja tidak akan cukup, lebih sempurna hati ini merasakan kenikmatan akhlak Rasulullah jika kita membaca Sirah Nabawi-nya. Ukhuwah yang dia ciptakan memberikan hasil yang membahagiakan. Hingga beberapa sahabatnya berpetualang dari satu negeri ke negeri lainnya hanya untuk bertemu Rasulullah dan meyakinkan hatinya bahwa itu benar-benar Rasulullah, Sang Nabi Terakhir.

Keimanan sejati yang merasuki jiwa-jiwa sahabatnya melahirkan pribadi-pribadi yang unggul dan mandiri. Kemandirian inilah yang nantinya menjadikan agama rahmatalli’alamin ini tersebar keseluruh penjuru dunia. Sungguh benar kalau ada yang mengatakan untuk mengubah dunia, hal pertama yang harus dilakukan adalah mengubah diri sendiri. Baik akhlak, pemikiran, dan hal-hal negatif lainnya yang perlu diluruskan kembali ke jalan yang mustaqim.

Organisasi lain yaitu Al-Ikhwan Al-Muslimun yang dipimpin oleh Hasan Al Banna. Organisasi yang menjunjung tinggi Al-Qur’an dan Al-Hadits ini tak kalah luar biasa perjuangannya. Mereka bangkit karena muak dengan kebanyakan saudara seimannya yang hanya duduk-duduk saja. Mereka memberontak terhadap budaya-budaya Yahudi dan Barat yang menggerogoti moral bangsanya. Tidak hanya itu, opini-opini nyasar alias ngaco dari rekan-rekan sesama muslim maupun pihak kafir mendera dari berbagai sudut. Tetapi semua itu bukanlah apa-apa dibandingkan apa yang mereka dapatkan. Dari sekian banyak keuntungan yang mereka peroleh, kemandirianlah yang akan penulis soroti. Bagaimana tidak kalau masyarakat kita terlalu mengandalkan orang-orang yang meledak-ledak dalam berorasi, orang-orang yang berakademik tinggi, dan orang-orang yang punya kecenderungan perfectionist di mata masyarakat umum. Mereka kurang bahkan tidak menyadari bahwa mereka punya kelebihan. Jadilah makhluk yang inferior (rendah diri) yang selalu bersembunyi di semak-semak ruang dan waktu. Hal seperti ini jelas bukanlah suatu kemandirian yang dimaksud, meskipun mereka menyelesaikan tugas-tugasnya seorang diri, tetap saja itu dia lakukan dengan kondisi nurani yang amburadul—banyak pikiran. Entah apa yang dipikirkannya itu.

Di sini organisasi menduduki peranan penting dalam meningkatkan kemandirian umat. Disamping ukhuwah tetap terjaga, organisasi biasanya memiliki visi-misi yang positif. Apalagi jika organisasi itu memberikan apa yang diinginkan oleh anggotanya. Proses pendidikan berorganisasi pun tak ketinggalan memberikan kontribusi penting untuk mem-profesional-kan umat dalam menunjang perekonomian mereka melalui karier yang oke.

Perbandingan orang yang belum pernah berorganisasi dengan yang sudah berpengalaman akan terlihat kontras perbedaanya, seperti hitam dan putih. Mulai bagaimana mereka berkomunikasi, me-menej waktu, me-menej emosi, hingga menetapaan planning-planning yang harus mereka lakukan.

Hal sejenis yang sering dilupakan oleh orang Indonesia adalah mereka suka membuat resolusi baru setiap pergantian tahun dan menelantarkan resolusi tahun sebelumnya begitu saja tanpa ada evaluasi ataupun tindak lanjut. Wajar saja kalau mereka kurang begitu berkembang dalam menyelesaikan persoalan. Karena mereka tidak mau ambil pusing merenovasi program yang gagal target pencapiannya.

Kemandirian seseorang yang pernah berorganisasi biasanya ditandai dengan munculnya organisasi yang baru didirikannya. Orang yang dulunya hanya sebagai jemaah atau seorang anggota organisasi tertentu yang belum dilirik orang. Tiba-tiba setelah cukup matang mereka mulai menunjukkan taringnya pada dunia. Sungguh perubahan yang memukau, bukan ?

Di dalam organisasi terdapat nilai-nilai ukhuwah atau persaudaraan yang cukup spesifik. Karena selain adanya tuntutan mengahasilkan produk atau karya tertentu, sisitem ukhuwah yang mereke terapkan lebih tertuju pada peningkatan kualitas SDM karyawannya. Sehingga tidak sedikit perusahaan-perusahaan yang yang mengadakan training-training yang kenyataannya harus dibayar mahal. Ini akan lebih merugikan apabila tak ada yang membekas setelah training itu usai. Andaikata membekas pun, itu biasanya tidak akan berlangsung lama sebelum training itu dilakukan secara kontinue.

Kreatifnya, perusahaan harus bisa membuat trainingnya sendiri, mengubah aturan-aturan konvensional yang terkesan baku dan membosankan, serta menjadikan Islam sebagai aturan yang ideal untuk menciptakan kedamaian diantara para pekerja. Bukankah umat Islam di Indonesia lebih dominan dibandingkan non-muslim ? Jadi tidak ada alasan bagi perusahaan untuk tidak memfasilitasi perusahaannya dengan masjid, Al-Qur’an, dan lain-lain, disamping tetap menghargai keyakinan karyawan non-muslim.

Ok-lah organisasi bisa dijadikan alternatif untuk membangun kemandirian umat. Lantas apa yang diharapakan umat ketika kemandirian umat tercapai ? Ya, kembali kepada niat masing-masing individu kembali kepada tujuan awal kita diciptakan, “Untuk apa kita diciptakan ?’, “Mampukah kita menjalankan amanat dari Allah untuk menjadi khalifah di muka bumi ini ?”. Tak perlu penulis jawab di sini, biar nurani yang menjawabnya.

Seorang umat membutuhkan sebuah gerakan dakwah yang terpadu dan menyodorkan solusi sistemis bagi permasalahan umat yang sudah demikian parah dan berlarut-larut. Bisa dibilang kembali kepada keutuhan Islam, yakni kembali pada pemahaman terhadap Islam secara integral dan komprehensif, bukan Islam yang parsial dan tambal sulam, Islam sebagai suatu sistem nilai yang mengatur hidup dan kehidupan manusia dalam segala aspeknya, dan bukan Islam yang dipahami sebatas simbol dan ritual peribadatan semata.

Sejak kemunculannya, Islam yang dibawa Rasulullah Muhammad SAW telah berumur lebih dari 14 abad. Sepanjang rentang waktu itu, Islam mengalami pasang surut peradaban. Dalam sebuah nubuatnya, Rasulullah pernah menengarai bahwa umat Islam setidaknya akan melalui 5 periode dalam perjalanannya hingga hari kiamat nanti; periode kenabian, periode kekhalifahan yang tegak di atas nilai-nilai kenabian, periode mulkan ‘adhdhan atau penguasa yang menggigit, periode mulkun jabariyyun atau penguasa yang menindas, dan terakhir sebelum datangnya kiamat umat ini sekali lagi akan Berjaya dengan kembali ke periode kekhalifahan yang tegak di atas nilai-nilai kenabian.

Demikianlah, kita hidup di periode mulkan jabariyyun dimana Islam tidak lagi tegak berdiri. Sekarang mata zahir kita menyaksikan sendiri bagaimana Negara-negara adidaya lagi kafir itu menyerang Negara-negara Islam dengan alasan pembantaian para teroris. Nyatanya mereka bunuhi anak-anak, wanita-wanita, dan kaum lainnya yang tidak bersalah. Mereka hanya mengada-ada !

Kejadian seperti itu akan terus berlangsung karena kiamat sudah sangat dekat. Tentu setelah Islam kembali berjaya pada masa pemerintahan Al-Mahdi dan dekat disini berbeda dengan dekatnya di dunia. Seperti apapun keadaan umat muslim dimasa yang akan datang, tidak jauh berbeda dengan apa yang ada sekarang. Kemandirian umat yang sudah tercapai harus benar-benar digalakkan untuk menciptakan kondisi umat yang mendukung dalam meraih kemenangan. Pertanyaannya adalah apakah kita mau menjadi bagian dari pasukan Islam itu atau hanya diam -duduk-duduk saja- dan hanya menonton ? Raihlah harapan dan mimpimu karena Hasan Al Banna mengatakan bahwa mimpi hari kemarin adalah kenyataan hari ini !

Hitung






Komentar

Tentang Blog Ini

Seorang pembelajar yang berharap tidak berhenti belajar, seorang hamba yang berharap tidak berhenti menghamba

Followers