27 January 2009

Balada Indonesia

Baru sedikit terbangun intellect bangsa Indonesia, baru sebahagian kecil individu bangsa kita yang sadar, baru sedikit bangsa kita yang mulai memikirkan kepentingan dirinya dan golongannya sendiri dan baru sedikit pula bangsa kita yang mulai berlomba mengumpulkan harta dunia yang tiada sekali-kali terkutuk itu, sekarang kaum pendidik bangsa kita sudah mulai kecemasan dan berteriak: Saliblah intellectulisme, saliblah individualisme, saliblah egoisme, saliblah materialism
Semboyan Yang Tegas: Soetan Takdir Alisjahbana

Dan apakah yang berlaku pada tanggal 28 Oktober 1928 di Gedung Kramat 106 di kota Jakarta-Raya dalam sidang penutup yang menyudahi Kongres Indonesia Muda? Persumpahan itu terbagi atas dua bagian, yaitu: Sumpah yang tiga dan putusan yang tiga pula. Jadi, enam semuanya jumlah kebulatan yang diambil dalam sidang penutup itu. Marilah kita ulangi bunyi sumpah yang tiga:

SOEMPAH JANG TIGA

Pertama: Kami putera dan puteri Indonesia mengaku berbangsa jang satu, Bangsa Indonesia
Kedua: Kami putera dan puteri Indonesia mengaku bertanah air jang satu, Tumpah Darah Indonesia
Ketiga: Kami putera dn puteri Indonesia mendjundjung bahasa persatuan, Bahasa Indonesia

Dalam rapat itu lahirlah lagu Indonesia-Raya, karena pertama kalinya pujangga Wage Supratman melagukan lagu Indonesia-Raya, sebagai sumbangan kepada perjuangan Indonesia Merdeka menuju Indonesia-Raya yang akan bergolak di kalangan Rakyat Pejuang. Dalam rapat itu dikibarkan pertama kalinya sesudah beratus-ratus tahun Sang Merah Putih sebagai bendera-persatuan, yang nanti akan menjadi bendera Negara yang merdeka-berdaulat pada hari Proklamasi. Keputusan ketiga yaitu meletakan dasar bersatu dalam kesatuan bulat dan kokoh yang dinamai dasar unitarisme dengan segala akibatnya bagi pergerakan pemuda dan pergerakan politik, yang harus disusun kembali menurut dasar unitarisme. Dengan demikian lenyaplah dasar berpulau-pulau, bernusa-nusa atau dasar insularisme, dan bersihlah ruangan ruhani dan organisasi perjuangan dengan dasar kelahiran bangsa, yaitu dasar unitarisme.
SUMPAH INDONESIA RAYA: M. Yamin

Semburat hati yang pilu dan kusut tersadarkan bahwa aku dilahirkan menurut garis Tuhan di negeri sejuta berkah. Siapa yang tak membantah negeriku pandai menyulap. Menyulap tongkat jadi sandang, menyulap tanah menjadi emas yang diburu dikejar banyak bangsa. Aku tak peduli bagaimana para sejarawan mengatakan bahwa nenek moyangku berasal dari Yunan. Yang pasti, aku hidup di negeri wacana nirwana.

Adalah suatu keniscayaan bahwa setiap negara di dunia pada detik ini tak ada yang tak kenal virus globalisasi, berinteraksi dengan negara lain, tetapi sangatlah luar biasa bahwa negeriku sebelum menemukan bentuknya seperti sekarang ini mencatatkan sejarah hubungan internasional yang memegang kunci penting dan tak dapat dilirik dengan mata memincing oleh bangsa lain jauh lama sekali. Siapa yang menyangkal bahwa nusantara diberkahi Tuhan dengan eloknya alam, hangatnya senyuman para penduduknya, kekayaan melimpah ruah dan kebhinnekaan yang membuat orang-orang luar tercengang. Semerbak wangi bangsa ini selama berabad-abad telah menuntun Cornelis de Houtman menginjakkan kaki dengan sejuta harapan. Boleh saja orang-orang Inggris koloni yang terusir dari negerinya sendiri menyebut benua Amerika sebagai dunia baru, tetapi negeriku adalah air surga yang tak pernah kering mengalir membasahi.

Sadar maupun tidak, terdapat 12.508 pulau tersebar di nusantara. Tingginya keragaman etnisitas dari Sabang sampai Merauke berisikan sumber daya manusia yang menunggu tangan-tangan terampil untuk diolah. Keragaman negeriku yang tersebar di sekitar 5640 kilometer pulau-pulau melingkup beribu bahasa. Di antara rumpun bahasa Austronesia Melayu Polinesia merupakan keempat terbesar berdasarkan penduduk, bahasa Melayu yang merupakan bahasa “buyut” bahasa Indonesia merupakan salah satu subkelompok terbesar rumpun tersebut. Tak disadari, orang Asmat di Papua, orang Kepulauan Aru, orang Madura dan orang Tionghoa nusantara lambat laun terinsyafkan bahwa ada sesuatu yang bercokol di dalam jiwanya terhadap bangsa ini yang kini kita sebut sebagai “nasionalisme”.

Ketika demam globalisasi melanda menyeruak memporakporandakan labirin-labirin geografis antar negara, tak ada yang menyangka ia serta merta membawa virus berbahaya globalisme, kebhinnekaan negeriku mulai terancam. Setelah lebih dari tiga setengah abad Indonesia dikungkung penjajahan, selama itu pula Indonesia relatif terisolasi dari dunia luar. Indonesia kembali diancam bentuk penjajahan baru di ruang kemerdekaan ini, yaitu penjajahan jati diri. Sekali lagi, penjajahan jati diri! Jati diri! Banyak sekali tangan-tangan yang tak menginginkan negeri ini maju melesat dengan segala potensinya, dengan dalih kemajuan dan kebebasan, jati diri bangsa ini semakin hancur terkikis, terabrasi oleh ombak globalisme. Ingat, aku tidak menyalahkan globalisasi, karena globalisasi adalah medan yang mau tak mau harus dihadapi setiap manusia abad ini. Justru globalisme-lah yang menyerukan uniformitas menuntut jurus silat ampuh sikap selektif dewasa ini.

Globalisme harus disikapi dengan satu jenis saja nasionalisme, yaitu civil nationalizm. Karena dengan civil nationalizm-lah kerakyatan yang berdaulat akan terbangun. Nasionalisme jenis ini tidak hanya memotong bahaya laten nasionalisme radikal seperti fasisme, tetapi juga akan menumbuhkan semangat cinta tanah air yang mendalam disertai kesiapan membangun dan melesatkan negara tanpa meninggalkan jati dirinya.

Tak terhitung banyaknya insan negeri ini yang terperangkap, terjerat dalam jumbai-jumbai kebingungan siapa sebenarnya dirinya, ada yang merasa menjadi orang Indonesia di kampung global (global village) berarti membuntuti trend dunia. Apa yang terjadi adalah ketidaksiapan kita dalam menghadapi globalisasi kemudian diinterpretasikan sebagai globalisme, sungguh salah kaprah. Pernahkah terpikir dalam setiap benak kita mengapa orang Jerman jauh-jauh ingin mendatangi Pantai Kuta Bali? Ya, benar, aku yakin keragaman adalah daya magnet yang tinggi bagi kehangatan dunia. Tetapi, apakah pernah bertanya bagaimana interpretasi dunia internasional terhadap Indonesia? Ya, hanya Bali, gamelannya yang khas itu memang mencirikan Indonesia, padahal di awal pembicaraanku kita bisa saja mendongkrak gaung bangsa dengan kebhinnekaannya ke seluruh penjuru dunia. Namun, fenomena yang terjadi seiring waktu berjalan kita semakin alergi dengan dodol, wajit, bugis, ranginang dan berpuluh ribu masakan nusantara dan lebih membanggakan produk luar.

Kunci lain yang tak kalah penting dari eksistensi sebuah bangsa adalah pendidikan. Kesadaran berjuang dalam suatu Pergerakan Nasional diawali dari kaum priyayi yang terdidik, bukan dari kaum pemulung sampah, bukan pula dari para buruh yang menggemakan harus bangkitnya kaum protelar tanpa kepedulian komprehensif mengenai bangsa ini! untuk mencapai 20% anggaran pendidikan saja negeriku harus menahan asma yang sangat dalam disertai perut kembang kempis perih. Tebayang terjadi jika “kita” bisa mewujudkan 50% anggaran pendidikan dari APBN diiringi dengan revolusi pendidikan! Aku sangat yakin seyakin-yakinnya, dengannya Sang Kebodohan akan lari terbirit-birit digantikan tibanya masyarakat yang madani.

Lihatlah dan dengarlah betapa ibu pertiwi menangis meratapi kehancuran mental dan sumber daya manusia bangsanya sendiri. Sadarkah engkau wahai saudara sebangsa setanah air telah terjadi penjajahan jati diri yang menguat mengakar samapi ke pelosok-pelosok geografis nusantara dan pelosok jiwamu. Ke manakah pundakmu yang cuma sepasang itu membawa amanah bangsa menuju Indonesia mulia, makmur dan sentosa seperti yang selalu diraung-raungkan para founding father kita dan suara-suara bisu pahlawan perang serta pahlawan pembelajaran??

Suara-suara keindonesiaan teruslah memancar seperti gelombang elektromagnetik, tak kenal medium, ia berisolasi seiring deru debunya para pecinta bangsa ini yang sadar akan keberadaan dan tanggung jawabnya sebagi orang Hindia Belanda.

/Mari memenangkan perang jati diri…………………………………………..,/
/Mari meluruskan benang kusut krisis multi dimensi………………….,/
/Mari hentikan air mata pertiwi yang bercucuran…………………………/

Bumi Pertiwi, akhir Januari 2009

0 komentar:

Hitung






Komentar

Tentang Blog Ini

Seorang pembelajar yang berharap tidak berhenti belajar, seorang hamba yang berharap tidak berhenti menghamba

Followers