16 July 2008

Perempuan sebagai Komoditi Pasar


Laiknya judul film Deddy Mizwar "Kiamat Sudah Dekat" memang ada korelasinya dengan keadaan manusia dewasa ini. Ini tidak terlepas dari gempuran globalisasi yang menuntut universalitas di segala bidang. Kita sering beranggapan "Oh yang baik itu yang teknologinya maju" yang otomatis menyuburkan anggapan bin paradigma teknologinya tersebut berkorelasi dengan budaya yang hebat. Gempuran budaya Barat tidak henti-hentinya menghancurkan budaya-budaya setempat saat sekat-sekat wilayah dan jarak tiada berkutik lagi (Meni sok seriuus nya....)
Lebih dari 12.000 tahun yang lalu saat manusia nomaden (Ingat!! aku sama sekali gak percaya dongeng evolusi) memutuskan tinggal secara tetap, sudah muncul akar-akar pelbagai budaya di dunia yang sungguh sangat beragam. Ini merupakan ciri dari manusia yang berakal. Hewan dikatakan tidak memiliki budaya karena dalam percontohan sarang semut suatu spesies akan sama persis dengan sarang spesies semut tersebut di tempat lain karena dijadikan kitu-kitu keneeeh weee. Adapun manusia, pasti memiliki rumah yang sangaat beragam bentuk, corak dan bahannya.

Aku (to the point azaaah, bisi ngelantur) sebenarnya sangat merasa ngiris sekali ketika terlintas :"Mengapa sebagian besar iklan modelnya wanita". (Kamuu jangan tutup mata tutup telingaa deeeh!! Bener khan?) Mulai dari iklan sabun, kopi, obat influenza (Influenza itu sebenarnya dari Bahasa Arab lhoo, Anfuun 'anzan yang berarti hidung yang mimisan, ni teh ditujukan ama kambing oleh dokter muslim yang menamai penyakit inih), batu baterai, provider pulsa, sampai penerbangan internasional tidak terlepas sekali dari erotisme perempuan. Benar-benar ini teeh akal bulus para pengusaha yang jauh dari taufik Alloh, na'uudzubillah ya. Kita jangan gurung gusuh terburu-buru melaknat majalah pornografi dan VCD-VCD biadabnya sedangkan di sekitar kita pornografi meratulela (Merajalela kalii, kan cewek). Loloskan UU APPP upps UU APP coooy!!!

0 komentar:

Hitung






Komentar

Tentang Blog Ini

Seorang pembelajar yang berharap tidak berhenti belajar, seorang hamba yang berharap tidak berhenti menghamba

Followers