27 November 2008

Pahlawan, Pembelajaran Secara Otodidak, dan Produk-Produk Bahasa Indonesia

Oleh Khoerullana

Terlepas dari formal tidaknya seorang warga negara Indonesia dalam menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, adalah karena adanya kebutuhan primer yang harus dijaga dan dilestarikan. Sebab ada keuntungan yang didapat bagi warga negara yang menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar, ada nilai tambah yang tidak didapat masyarakat yang tak acuh dengan bahasa Indonesia.


Orang-orang dalam perusahaan yang biasanya orang-orang berpendidikan akan lebih menghargai masyarakat yang giat menggunakan bahasa Indonesia yang sesuai kaidah-kaidah EYD (Ejaan Yang Disempurnakan) . Mereka akan menyebutnya orang indonesia sejati (pure Indonesian). Kesannya pun akan berbeda dengan masyarakat yang menggunakan bahasa Indonesia secara acak-acakkan. Ada kesan tidak terpelajar! Logikanya orang yang salah menggunakan bahasa Indonesia disebabkan karena ketidaktahuan mereka, sementara orang yang berbehasa Indonesia dengan rapih, tersusun, dan tertib, karena mereka tahu. Jelas disinilah masyarakat Indonesia diuji, berapa perbandingan masyarakat terpelajar dengan yang tidak terpelajar? Lebih spesifik lagi, berapa perbandingan kaum terpelajar yang peduli dengan bahasa Indonesia dengan kaum terpelajar yang cuek dengan bahasa resminya sendiri?

Mari kita sebut sebagai pahlawan masyarakat yang benar-benar peduli dengan bahasanya sendiri. Bukan untuk maksud tidak jelas, justru mereka perlu dihargai agar mereka terus mengkomunikasikan bahasa Indonesia yang sebenarnya. Pahlawan-pahlawan bahasa Indonesia itu tidak segan-segan mengoreksi kata-kata yang keluar dari orang-orang di lingkungan sekitarnya kalau memang yang keluar adalah kata-kata yang salah. Siapapun itu yang mengatakannya, kalau salah ya perlu diperbaiki.

Bagaimana dengan para guru? Inilah bagian penting yang cukup disayangkan. Selama dia masih menjadi guru, tentunya dia sadar bahwa apa yang diucapkan dan dilakukannya sering ditiru oleh para siswanya, parahnya ucapan-ucapan yang salah menurut kaidah-kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar sering membekas di kepala para pelajar. Misalnya saja kata jadwal, masih saja ada yang meyakini bahwa kata jadual adalah kata baku dari jadwal. Itu terjadi sampai siswa itu menjadi guru. Sangat disesalkan bukan? Hanya karena salah membaca daftar kata baku dan kata tidak baku, dia harus menyebarkan kesalahan yang ia tidak sadari itu! Disinilah peran pelajar untuk aktif dalam mencari kebenaran ilmu-ilmu yang mereka pelajari di sekolah. Belajar otodidak adalah solusinya!

Adanya solusi-solusi praktis itu relatif adanya, tiap orang punya seninya sendiri, sehingga jika penulis merasa aman dengan hanya memperhatikan kolom kata baku saja tanpa harus menengok ke kolom kata tidak baku maka yang lain belum tentu menguasai dengan cara seperti itu.

Maraknay pembelajaran secara otodidak dipicu akan adanya sesuatu hal penting yang tidak didapat di sekolah, misalnya saja praktikum yang minim atau tidak mendetailnya suatu pelajaran yang para siswa sukai. Sebab bagaimanapun juga, sekolah terikat pada silabus dan materi-materi yang harus dipelajari, sehingga guru tidak punya cukup waktu untuk menjelaskan secara detail. Disinilah peran guru dalam mengolah materi pelajarannya secara kreatif, efektif, dan efisien. Memang sulit menemukan guru semcam itu, tetapi tiap sekolah pasti memilki guru yang masih menunjukkan geliatnya dalam usaha mencerdaskan anak. Biasanya pengorbanan mereka akan tampak, siswa pun cukup pandai dalam menilai mana guru yang oke atau modern dan mana guru yng kuno, ini bisa dilihat dari cara guru mengajar, apakah ia terpaku pada teks seperti dulu waktu si guru itu masih belajar atau sudah memakai laptop tiap kali pertemuan. Semua itu tergambar dengan jelas, jauh sekali perbedaannya!

Namun hal yang lebih menentukan adalah dari keseriusan guru itu sendiri dalam mengajarkan ilmunya. Karena apapun media pembelajarannya, jika gurunya sungguh-sungguh dan ingin mencerdasakan anak didiknya secara serius, maka keberhasilan dijamin akan ada ditangan. Kalau pun ada kegagalan, itu hanyalah batu sandungan kecil yang bisa dimasukkan ke dalam kantong “Proses menuju Sukses!”

Kalau begitu, bahasa Indonesia pun akan dapat bersinar lagi, kalau saja perbandingan antara pahlawan + guru dengan masyarakat awam + masyarakat yang cuek lebih berat pahlawan + guru dibandingkan masyarakat awam + masyarakat yang cuek. Hanya kalau sudah begini kondisinya, dimana bahasa Indonesia hanya sebagai bahasa saja, tanpa ada esensi lainnya. Tugas kita bersamalah selaku warga negara Indonesia, kita mulai dari yang terkecil sajalah dahulu, misalnya saja kita sudah mulai menggunakan kata baku sedikit demi sedikit secara konsisten dan terus merangkak ke arah yang lebih besar. Dan perubahan pun akan tampak dengan jelas. Itu perlu dibiasakan! Kebiasaan yang mantap akan meringankan beban. Ya, sudah tidak dianggap batu lagi kalau sudah terbiasa, bukan begitu?

Jika masalahnya seperti tadi, belajar sendiri saja! Buku Praktis Bahasa Indonesia 1 dan 2 yang diterbitkan oleh Pusat Bahasa Depdiknas atau buku lainnya yang bisa dipakai sebagai referensi atau buku panduan dalam mempelajari bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Dan seharusnya mereka terkejut melihat buku bahasa Indonesia di perpustakaan sekolah masih bersih seperti bayi yang baru lahir. Memang kenyataannya fakultas bahasa Indonesia tidak kehilangan para peminat, tetapi mereka kurang memahami apa yang seharusnya dilakukan sebagai guru bahasa Indonesia melihat derajat bahasa Indonesia di bawah pelajaran eksak atau di bawah pelajaran-pelajaran yang di-UN-kan.

Sebagai siswa eksak, bahasa Indonesia terkesan seperti makanan ringan dibandingkan pelajaran lain yang di-UN-kan, hal ini terbukti saat UN digelar, mereka akan mengakhirkan atau memberi jatah sisa pada pelajaran bahasa Indonesia. Mereka lebih mengutamakan memberi porsi lebih pada pelajaran lain.

Wajar saja itu terjadi karena dari segi materi bahasa Indonesia berisi bacaan-bacaan yang tersusun dari huruf-huruf. Sementara pelajaran eksak tersusun dari rumus-rumus dan angka-angka yang kebanyakan harus dibiasakan dengan otretan.

Bukan bermaksud memburukkan bahasa Indonesia ataupun guru bahasa Indonesia, karena kalau berpikiran buruk, maka keburukanlah yang dihasilkan.

Ditelisik lebih jauh, bahasa indonesia seharusnya menjadi bahasa Internasional, bukan tidak mungkin itu terjadi. Karena tidak sedikit orang barat yang belajar bahasa Indonesia kalau pembaca tahu. Dan seharusnya itu bisa dijadikan sinyal menuju impian itu! Penulis yakin pembaca tidak percaya kalau bahasa Indonesia bisa dijadikan bahasa Internasional, minimal di Asia tenggara! Dan ketidakyakinan itulah yang menyebabkan bahasa Indonesia diam di tempat eh jalan di tempat.

Padahal, di luar negeri sana ada produk-produk bahasa Indonesia yang cukup berpengaruh dan tentunya cukup dikenal di dunia literasi dunia. Sebut saja novel-novel Pramoedya Ananta Tour yang sudah ditranslit ke beberapa bahasa asing, atau puisi-puisinya Ajip Rosidi yang juga sudah go internasional! Dan karya pengarang-pengarang lainnya yang tidak kalah luar biasa.

Ironi memang kalau melihat produk sastra indonesia di tanah airnya sendiri tidak cukup digemari, alasannya klasik : budaya baca yang rendah! Mereka lebih suka melihat pertunjukan teater tau film dari suatu novel daripada membaca langsung novelnya itu sendiri. Disini jelas bahasa Indonesia tidak cukup cerdas mengelola dunia literasi mereka sendiri. Penyebab lainnya yang bisa dijadikan tekanan mengapa konsumen buku di Indonesia belum mencapai klimaks adalah harga buku yang relatif mahal dan tidak cocok di saku-saku kaum miskin. Kalau pun ada yang murah, isi dan kualitasnya tidak best seller-best seller amat!

Kekayaan produk-produk bahasa Indonesia tidak bisa di ukur dengan apapun, karena itu sudah menjadi darah daging warga Indonesia dan menjadi ikon tersendiri di mata masyarakat dunia tentang Indonesia. Kesusastraan Indonesia yang berawal dari kebudayaan melayu dengan pengaruh-pengaruhnya dari kebudayaan asing melahirkan kebudayaan Indonesia yang unik dan tak ada duanya. Salah satu bentuk kebudayaan itu adalah kesusastraan.

Dari buku praktik bahasa Indonesia menyebutkan bahwa ada 3 aspek yang harus ada dalam karya sastra, yaitu keindahan, kejujuran, dan kebenaran. Jika ada karya sastra yang mengorbankan salah satu aspek ini, misalnya karena alasan komersial, maka sastra itu kurang baik.

Menganalisis kondisi sekarang, buku-buku sastra dijual dan dicetak-ulang dengan faktor utama karena keuntungan fiansial, maka jangan heran kalau pembaca menemukan novel Siti Nurbaya dengan kover yang lebih remaja. Selain bertujuan menarik minat para remaja untuk membaca karya sastra bermutu, tujuan lain agar orderan buku bisa kembali berkibar lewat karya satrawan-satrawan Indoensia kelas atas dengan tampilan anyar. Kalau yang seperti itu, tujuan utamanya kurang baik.

Masalahnya, masyarakat sering merasa dibodohi ketika isi buku yang telah dibelinya tidak sesuai harapan, alias garing. Karenanya masyarakat perlu tahu karya sastra yang bagaimana yang perlu dibeli. Dalam memilih karya sastra sebagai bahan bacaan, tentu kita harus selalu mengupayakan yang terbaik. Untuk itu, kita perlu mengetahui setidaknya tiga macam norma atau nilai yang menjadi cirinya, yaitu norma estetika, sastra, dan moral.

Norma Estetika

Pertama, karya itu mampu menghidupkan atau memperbarui pengetahuan pembaca, menuntunya melihat berbagai kenyataan kehidupan, dan memberikan orientasi baru terhadap apa yang dimiliki. Kedua, karya sastra itu mampu membangkitkan aspirasi pembaca untuk berpikir dan berbuat lebih banyak dan lebih baik bagi penyempurnaan kehidupannya. Ketiga, karya sastra itu mampu memperlihatkan peristiwa kebudayaan, sosial, keagamaan, atau politik masa lalu dalam kaitannya dengan peristiwa masa kini dan masa datang. Itulah sebabnya pengalaman (batin) yang diperoleh pembaca dari karya sastra yang dibacanya disebut pengalaman estetik.

Norma Sastra

Pertama, karya itu merefleksi kebenaran kehidupan manusia. Artinya, karya itu membekali pembaca dengan pengetahuan dan apresiasi yang mendalam tentang hakikat manusia dan kemanusiaan serta memperkaya wawasannya mengenai arti hidup dan kehidupan ini. Kedua, karya itu mempunyai daya hidup yang tinggi, yang senantiasa menarik bila dibaca kapan saja. Ketiga, karya itu menyuguhkan kenikmatan, kesenangan, dan keindahan karena strukturnya yang tersusun apik dan selaras.

Norma Moral

Kaya sastra disebut memilki norma moral apabila menyajikan, mendukung, dan menghargai nilai-nilai kehidupan yang berlaku. Nilai-keagamaan yang disajikan, misalnya, harus mampu memperkukuh kepercayaan pembaca terhadap agama yang dianutnya.

Berikut nilai-nilai (intisari) kehidupan yang terkandung dalam beberapa karya sastra:

Marah Rusli : “Memang kurang baik membuang yang lama karena mendapat yang baru. Tetapi ada di antara adat dan aturan lama itu, yang sesungguhnya baik pada zaman dahulu, tetapi kurang baik atau tak berguna lagi waktu sekarang ini. Adalah halnya seperti pakaian tatkala mula-mula dibeli, boleh dan baik dipakai, tetapi makin lama ia makin tua dan lapuk; akhirnya koyak-koyak, tak dapat dipergunakan lagi…. Demikian juga adat itu, bertukar-tukar menurut zaman. Walaupun tiada disengaja menukarnya, ia kan berganti juga; sebab tak ada yang tetap. Sekali air pasang, sekali tepian beralih….” (Siti Nurbaya, Bab XII)

Iwan Simatupang: ”Pada setiap bunuh diri terdapat dua kali ’korban’ dan dua kali perkataan ’terdakwa’. Si korban sekaligus membalas pembunuhan atas dirinya pada saat itu juga, dimana dia jadinya bertindak sebagai pembunuh. Tegasnya, sebagai sang terdakwa baru. Sedang si terdakwa sekaligus mengalami pembunuhan atas dirinya pada saat itu juga. Tegasnya, sang korban baru.” (Ziarah)

Nugroho Notosusanto: ”Di dalam hantaman-hantaman nasib dan dalam gelombang kebinatangan, inti daripada pribadi kemanusiaan bertunas, berkembang. Mengatasi pikiran, mengatasi egoisme, mengatasi moral. Berkorban adalah sifat manusia yang sangat membedakannya daripada hewan.” (Hujan Kepagian)

Demikianlah kesusastraan sebagai salah satu produk bahasa Indonesia. Nilai-nilai yang terkandung di dalam karya sastra, tak akan lepas dari filosofi-filosofi dan pengalaman para sastrawan. Begitu indahnya dunia, begitu tentramnya jiwa atau kemelut yang terkandung dalam hidup akan adanya pemikiran sastrawan yang seringkali menjadi tulisan. Kini tugas kitalah meneruskan apa yang mereka cita-citakan, menjunjung nilai-nilai moral dan memaparkan keonaran demi keonaran yang terjadi di masyarakat agar mereka bisa berkaca dan ikut berpikir serta mencari solusinya.

Akhirnya, satu kata mutiara yang penulis cantumkan disini hanya untuk memberi suatu kekuatan untuk terus berkarya yang dalam hal ini tentang menulis sebagai salah satu keahlian dari pelajaran bahasa indonesia.
Jika ada buku yang ingin kau baca, tapi buku itubelum ditulis, maka kaulahyang harus menulisnya.
-Toni Morison

Mekarnya Kemandirian Umat di Hiruk Pikuk Organisasi


Oleh Khoerullana
Saban minggu ibu-ibu Rumah Tangga itu keluar menuju masjid Jami’ di desanya, kerudungnya yang anggun bervariasi warna menambah elok penampilan mereka pagi ini. Tua-muda sama saja terkesan berwibawa. Mereka adalah jamaah masjid Ta’lim yang rutin mengikuti ceramah-ceramah keagamaan. Atau setiap jumat siang, mereka berkumpul untuk shalawatan yang sering popular dengan sebutan barjanji.

Contoh lain, pemuda-pemuda lajang yang tergabung dalam IRMAS (Ikatan Remaja Masjid) aktif membantu pengadaan kegiatan-kegiatan keagamaan dan membantu pembangunan bangunan-bangunan agamis maupun sosialis. Tidak hanya itu, anak-anak yang setiap sore pergi mengaji di TPA (Tempat Pendidikan Anak-Anak) menambah syahdu keindahan budaya muslim ditengah-tengah kegersangan masyarakat. Walaupun demikian, tidak sedikit masyarakat yang benar-benar tidak punya identitas keislamannya (lenyapnya identitas jati diri ) alias tidak mengacuhkan budaya Islam. Setiap adzan mengalun merdu, mereka merasa terusik. TV selalu menyala dari Maghrib sampai larut malam. Anak-anak mereka tidak jauh berbeda dengan induknya. Emosi tak terkendali, kemiskinan menghantui para penganggur berpendidikan. Lantas apa yang bisa diharapkan dari hidup ? Ketika keegoisan menghalangi manusia bersilaturrahmi beberapa saat untuk mengisi kekosongan ruhaninya. Pertahanan iman mereka lemah saat masalah menghambat dan menerkam. Dengan mudahnya angin sepoi menghempaskan mereka ke jurang. Dan mati dalam keadaan cinta dunia yang berlebihan. Naudzubillah….

Tidak salah jika Eckhart Tolle, seorang guru spiritual mengatakan, “ Persoalan umat manusia berakar kuat di dalam pikiran itu sendiri. Atau bahkan, kesalahan identifikasi kita dengan pikiran.” Maksudnya setiap permasalahan yang menghinggapi seseorang terjadi karena belenggu-belenggu pikirannya sendiri, pikirannya bukan miliknya yang alami, melainkan pikiran yang sudah terkontaminasi dengan ambisi, ego, harapan, dan keinginan yang mengarah pada hal duniawi, kebendaan, materialistik, permisivisme (serba boleh), dan hedonisme. Begitulah kira-kira kesimpulan yang penulis dapatkan dari bukunya Eckhart Tolle yaitu,” Membaca Pikiran Mendulang Kekuatan Spiritual.”

Eckhart Tolle baru menemukannya di abad ke-21, padahal Allah sudah memberitahukan hal itu jauh-jauh hari lalu di dalam Al-Qur’an-Nya Yang Maha Benar. Allah memberitahukan bahwa keadaan manusia itu bergantung dari apa yang dipikirkannya. Manusia akan terus saja dibelenggu dalam ketidak-percayadirian-nya dan ketidak-berdayaan-nya menghadapi persaingan apabila dia masih memiliki anggapan lemah tentang dirinya.

Kelemahan mental yang menimpa sebagian besar masyarakat muslim cenderung menganggap dirinya tak berharga. Menyebabkan tidak berkembangnya potensi yang mereka miliki. Mereka gampang puas dengan keberhasilan jangka pendek dan merasa tidak yakin dengan jangka panjang. Namun yang lebih parah dari kelemahan mental dan matinya potensi adalah hati yank keras dan kasar. Kalau sudah begitu, peristiwa kematian tidak memberi pengaruh apapun, lebih cinta pada kesenangan duniawi dan lebih senang menunda kebaikan daripada melakukan kreativitas apapun untuk meningkatkan kualitas ibadah.

Ketiga permasalahn umat yang bersifat personal tadi saling berkaitan satu sama lain, tidak terjual terpisah. Bisa disimpulkan kalau masyarakat sekarang mengalami kondisi sakit jiwa parah. Perlu dicari obatnya segera.

Menurut WHO (World Health Organization), jiwa seseorang dikatakan sehat jika memiliki ciri sebagai berikut, yaitu : Bersikap positif pada diri sendiri dan dapat menyesuaikan diri secara baik dengan lingkungannya; Lebih puas mendapatkan sesuatu melalui proses perjuangan daripada instant; Lebih puas memberi daripada menerima serta hubungan yang saling menolong; Menerima kekecewaan untuk pelajaran yang akan datang; dan memiliki kasih sayang yang mengarahkan rasa permusuhan pada penyelesaian yang kreatif.

Seharusnya kita patut bersyukur karena Islam memiliki obat yang mujarab. Ada 2 paket yang perlu kita tempuh untuk menyembuhkan hati yang sakit, paket pertama yang berhubungan dengan kepekaan jiwa, berisi 3 kapsul, yaitu: Waspada pada pengawasan Allah; Mengingat kematian dan kehidupan sesudahnya dan; Membayangkan hari akhirat. Paket kedua terdiri dari 6 kapsul yaitu: Memperbanyak membaca Al-Qur’an dan mentadaburinya; Dzikrullah dengan hati, lisan, pikiran, dan perbuatan yang pasti akan mendapatkan jaminan ketenangan batin; Berperilaku sesuai dengan akhlak Rasulullah SAW agar mendapatkan kemuliaan di dunia dan akhirat; dan bergaul atau berteman dengan orang-orang sholeh; serta membiasakan diri dengan menangis karena takut akan azab Allah.

Satu kapsul yang akan penulis paparkan yaitu berteman dengan orang-orang shalih. Bagaimanapun keadaannya, seorang sahabat akan sangat berarti untuk selalu memberikan nasihat atau masukan yang membangun atau setidaknya men-support dan memberikan semangat saat jiwa benar-benar butuh itu. Jiwa kembali terisi energi positif dan menghindari kekosongan ruh yang berdampak negatif.kekuatan untuk menerjang segala rintangan dari syaitan bisa kita dapatkan dari ukhuwah ( ikatan persaudaraan) islamiyah.

Organisasi yang patut dijadikan contoh adalah organisasi yang dipimpin oleh Muhammmad bin Abdullah. Organisasinya yang bertujuan menegakkan kalimat Laa ilaha Ilallah itu berjuang mati-matian. Titik darah penghabisan bukanlah slogan semata, melainkan sebagai alat untuk membayar kemenangan hakiki dari Allah. Tidakkah kita berpikir, bahwa untuk mendapatkan ke-Ridha-an Allah tidak cukup hanya dengan puas berdzikir tiap pagi dan sore. Perjuangan yang panjang disertai pengorbanan yang tidak sedikit, bahkan nyawa pun harus rela dikorbankan. Selama 23 tahun Rasulullah menempuh perjalanan hidupnya hanya untuk tujuan mulia itu. Dia rela melepaskan napsu-napsu keduniawiannya yang tidak berharga. Dia rela disakiti kaum kafir, dilecehkan, dihina, hingga kaum kafir itu ingin membunuhnya. Sungguh meleset yang didapat kaum kafir itu, Rasulullah tetap menjalani hari-harinya dengan sabar dan penuh senyum keikhlasan. Baginya hal semacam itu bukan untuk ditakuti, melainkan harus ditebas dengan akhlak mulia. Bukankah Rasulallah diutus untuk menyempurnkan akhlak yang baik ?

Itu saja tidak akan cukup, lebih sempurna hati ini merasakan kenikmatan akhlak Rasulullah jika kita membaca Sirah Nabawi-nya. Ukhuwah yang dia ciptakan memberikan hasil yang membahagiakan. Hingga beberapa sahabatnya berpetualang dari satu negeri ke negeri lainnya hanya untuk bertemu Rasulullah dan meyakinkan hatinya bahwa itu benar-benar Rasulullah, Sang Nabi Terakhir.

Keimanan sejati yang merasuki jiwa-jiwa sahabatnya melahirkan pribadi-pribadi yang unggul dan mandiri. Kemandirian inilah yang nantinya menjadikan agama rahmatalli’alamin ini tersebar keseluruh penjuru dunia. Sungguh benar kalau ada yang mengatakan untuk mengubah dunia, hal pertama yang harus dilakukan adalah mengubah diri sendiri. Baik akhlak, pemikiran, dan hal-hal negatif lainnya yang perlu diluruskan kembali ke jalan yang mustaqim.

Organisasi lain yaitu Al-Ikhwan Al-Muslimun yang dipimpin oleh Hasan Al Banna. Organisasi yang menjunjung tinggi Al-Qur’an dan Al-Hadits ini tak kalah luar biasa perjuangannya. Mereka bangkit karena muak dengan kebanyakan saudara seimannya yang hanya duduk-duduk saja. Mereka memberontak terhadap budaya-budaya Yahudi dan Barat yang menggerogoti moral bangsanya. Tidak hanya itu, opini-opini nyasar alias ngaco dari rekan-rekan sesama muslim maupun pihak kafir mendera dari berbagai sudut. Tetapi semua itu bukanlah apa-apa dibandingkan apa yang mereka dapatkan. Dari sekian banyak keuntungan yang mereka peroleh, kemandirianlah yang akan penulis soroti. Bagaimana tidak kalau masyarakat kita terlalu mengandalkan orang-orang yang meledak-ledak dalam berorasi, orang-orang yang berakademik tinggi, dan orang-orang yang punya kecenderungan perfectionist di mata masyarakat umum. Mereka kurang bahkan tidak menyadari bahwa mereka punya kelebihan. Jadilah makhluk yang inferior (rendah diri) yang selalu bersembunyi di semak-semak ruang dan waktu. Hal seperti ini jelas bukanlah suatu kemandirian yang dimaksud, meskipun mereka menyelesaikan tugas-tugasnya seorang diri, tetap saja itu dia lakukan dengan kondisi nurani yang amburadul—banyak pikiran. Entah apa yang dipikirkannya itu.

Di sini organisasi menduduki peranan penting dalam meningkatkan kemandirian umat. Disamping ukhuwah tetap terjaga, organisasi biasanya memiliki visi-misi yang positif. Apalagi jika organisasi itu memberikan apa yang diinginkan oleh anggotanya. Proses pendidikan berorganisasi pun tak ketinggalan memberikan kontribusi penting untuk mem-profesional-kan umat dalam menunjang perekonomian mereka melalui karier yang oke.

Perbandingan orang yang belum pernah berorganisasi dengan yang sudah berpengalaman akan terlihat kontras perbedaanya, seperti hitam dan putih. Mulai bagaimana mereka berkomunikasi, me-menej waktu, me-menej emosi, hingga menetapaan planning-planning yang harus mereka lakukan.

Hal sejenis yang sering dilupakan oleh orang Indonesia adalah mereka suka membuat resolusi baru setiap pergantian tahun dan menelantarkan resolusi tahun sebelumnya begitu saja tanpa ada evaluasi ataupun tindak lanjut. Wajar saja kalau mereka kurang begitu berkembang dalam menyelesaikan persoalan. Karena mereka tidak mau ambil pusing merenovasi program yang gagal target pencapiannya.

Kemandirian seseorang yang pernah berorganisasi biasanya ditandai dengan munculnya organisasi yang baru didirikannya. Orang yang dulunya hanya sebagai jemaah atau seorang anggota organisasi tertentu yang belum dilirik orang. Tiba-tiba setelah cukup matang mereka mulai menunjukkan taringnya pada dunia. Sungguh perubahan yang memukau, bukan ?

Di dalam organisasi terdapat nilai-nilai ukhuwah atau persaudaraan yang cukup spesifik. Karena selain adanya tuntutan mengahasilkan produk atau karya tertentu, sisitem ukhuwah yang mereke terapkan lebih tertuju pada peningkatan kualitas SDM karyawannya. Sehingga tidak sedikit perusahaan-perusahaan yang yang mengadakan training-training yang kenyataannya harus dibayar mahal. Ini akan lebih merugikan apabila tak ada yang membekas setelah training itu usai. Andaikata membekas pun, itu biasanya tidak akan berlangsung lama sebelum training itu dilakukan secara kontinue.

Kreatifnya, perusahaan harus bisa membuat trainingnya sendiri, mengubah aturan-aturan konvensional yang terkesan baku dan membosankan, serta menjadikan Islam sebagai aturan yang ideal untuk menciptakan kedamaian diantara para pekerja. Bukankah umat Islam di Indonesia lebih dominan dibandingkan non-muslim ? Jadi tidak ada alasan bagi perusahaan untuk tidak memfasilitasi perusahaannya dengan masjid, Al-Qur’an, dan lain-lain, disamping tetap menghargai keyakinan karyawan non-muslim.

Ok-lah organisasi bisa dijadikan alternatif untuk membangun kemandirian umat. Lantas apa yang diharapakan umat ketika kemandirian umat tercapai ? Ya, kembali kepada niat masing-masing individu kembali kepada tujuan awal kita diciptakan, “Untuk apa kita diciptakan ?’, “Mampukah kita menjalankan amanat dari Allah untuk menjadi khalifah di muka bumi ini ?”. Tak perlu penulis jawab di sini, biar nurani yang menjawabnya.

Seorang umat membutuhkan sebuah gerakan dakwah yang terpadu dan menyodorkan solusi sistemis bagi permasalahan umat yang sudah demikian parah dan berlarut-larut. Bisa dibilang kembali kepada keutuhan Islam, yakni kembali pada pemahaman terhadap Islam secara integral dan komprehensif, bukan Islam yang parsial dan tambal sulam, Islam sebagai suatu sistem nilai yang mengatur hidup dan kehidupan manusia dalam segala aspeknya, dan bukan Islam yang dipahami sebatas simbol dan ritual peribadatan semata.

Sejak kemunculannya, Islam yang dibawa Rasulullah Muhammad SAW telah berumur lebih dari 14 abad. Sepanjang rentang waktu itu, Islam mengalami pasang surut peradaban. Dalam sebuah nubuatnya, Rasulullah pernah menengarai bahwa umat Islam setidaknya akan melalui 5 periode dalam perjalanannya hingga hari kiamat nanti; periode kenabian, periode kekhalifahan yang tegak di atas nilai-nilai kenabian, periode mulkan ‘adhdhan atau penguasa yang menggigit, periode mulkun jabariyyun atau penguasa yang menindas, dan terakhir sebelum datangnya kiamat umat ini sekali lagi akan Berjaya dengan kembali ke periode kekhalifahan yang tegak di atas nilai-nilai kenabian.

Demikianlah, kita hidup di periode mulkan jabariyyun dimana Islam tidak lagi tegak berdiri. Sekarang mata zahir kita menyaksikan sendiri bagaimana Negara-negara adidaya lagi kafir itu menyerang Negara-negara Islam dengan alasan pembantaian para teroris. Nyatanya mereka bunuhi anak-anak, wanita-wanita, dan kaum lainnya yang tidak bersalah. Mereka hanya mengada-ada !

Kejadian seperti itu akan terus berlangsung karena kiamat sudah sangat dekat. Tentu setelah Islam kembali berjaya pada masa pemerintahan Al-Mahdi dan dekat disini berbeda dengan dekatnya di dunia. Seperti apapun keadaan umat muslim dimasa yang akan datang, tidak jauh berbeda dengan apa yang ada sekarang. Kemandirian umat yang sudah tercapai harus benar-benar digalakkan untuk menciptakan kondisi umat yang mendukung dalam meraih kemenangan. Pertanyaannya adalah apakah kita mau menjadi bagian dari pasukan Islam itu atau hanya diam -duduk-duduk saja- dan hanya menonton ? Raihlah harapan dan mimpimu karena Hasan Al Banna mengatakan bahwa mimpi hari kemarin adalah kenyataan hari ini !

Hitung






Komentar

Tentang Blog Ini

Seorang pembelajar yang berharap tidak berhenti belajar, seorang hamba yang berharap tidak berhenti menghamba

Followers